HARIANE JOGJA – Terdapat sejumlah tradisi 1 Suro di berbagai daerah yang dilakukan untuk sejumlah tujuan yang berbeda.
Misalnya, tradisi menjelang suro di Desa Prigi, Banjarnegara, Jawa Tengah oleh umat Buddha yang bertujuan sebagai wujud terima kasih.
Selain itu, masih ada beberapa tradisi lain yang ada di sejumlah wilayah Indonesia. Berikut informasi lengkapnya.
Tradisi 1 Suro di Indonesia
Berikut ini merupakan tradisi 1 Suro di Indonesia yang dilaksanakan untuk tujuan tertentu.
1. Tradisi 1 Suro di Desa Prigi
Dilansir dari laman Kemenag, tradisi menjelang suro di Desa Prigi, Banjarnegara, Jawa Tengah ini diawali dengan tradisi mengantar masakan ketan yang disebut dengan punggahan.
Tradisi 1 Suro ini dilakukan sebagai wujud terima kasih umat Buddha kepada umat Islam yang telah memberikan kebaikan kepada umat Buddha saat bulan puasa.
Setelah melakukan punggahan, umat Buddha akan menjalani puasa sampai malam pangkareman, yaitu adalah hari tenggang sebelum memasuki 1 Suro.
Pada masa pangkareman, umat Buddha tidak diperkenankan melakukan aktivitas atau pekerjaan rutin dan akan fokus pada pengendalian diri serta ibadah.
2. Kirab 1 Suro di Surakarta
Kirab satu Suro di Surakarta ini dilakukan pada malam hari, tepatnya sebelum tanggal 1 Muharram atau 1 Suro. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk refleksi diri atau pengingat akan kesalahan yang telah diperbuat selama satu tahun dengan harapan agar lembaran baru dapat berjalan lebih baik dari sebelumnya.
Dilansir dari Dinas Pariwisata Solo Surakarta, kirab satu Suro di Keraton Surakarta ini akan diikuti oleh ribuan orang, seperti Raja, keluarga, kerabat, abdi dalem hingga masyarakat umum.
Peserta akan berkeliling sambil membawa kerbau bule yang merupakan hewan keramat Keraton. Peserta didominasi oleh laki-laki yang menggunakan pakaian adat Jawa serta wanita dengan kebaya hitam.
Selama perjalanan peserta tidak mengucapkan satupun kata sebagai bentuk perenungan diri terhadap apa yang dilakukan selama setahun terakhir.
3. Tradisi 1 Suro di Desa Traji
Tradisi 1 suro di Desa Traji, Temanggung, Jawa Tengah ini dibagi menjadi dua, yaitu membuat sajen untuk tempat punden desa yang berisi nasi uncen, empon-empon juwadah pasar, kembang katelon, serta uang.
Sedangkan untuk sajen pelaksanaan upacara adat berisi gunungan, bucu asin, sega golong, kepala kambing, ingkung, bungkusan beras putih dan beras kuning, kembang setaman, dan masih banyak lagi.
Dilansir dari Kikomunal Indonesia, tujuan tradisi ini yaitu sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, budaya gotong royong, serta mempererat persatuan dan kesatuan dan kesatuan masyarakat, memberikan hiburan dan melestarikan warisan leluhur.
4. Tradisi Mandik Pusake di Lombok Barat
Ritual Mandik Pusake yang dimiliki oleh masyarakat Lombok barat biasanya dilakukan bertepatan pada 1 Muharram atau 1 Suro pada penanggalan Jawa. Ritual ini dilakukan dengan tujuan untuk memelihara nyawa, memelihara jiwa, serta untuk silaturahmi.
Dilansir dari Dinas Pariwisata Lombok Barat, ritual ini akan dihadiri para pemilik keris dari seluruh penjuru Lombok yang datang ke tempat yang sudah ditentukan sambil membawa keris masing-masing.
Nantinya keris akan dimandikan oleh salah satu tokoh adat yang sudah terpilih beserta membaca lontar atau paos yang tertulis pada daun lontar yang berisi tulisan Sansekerta.
Itulah beberapa tradisi 1 Suro di berbagai daerah Indoensia yang memiliki tujuan tertentu. **** (Kontributor: Demi Anisatur)
Baca artikel lainnya di Hariane.com


Penulis dan Editor
-
Kontributor 5
-
Tri Lestari
Masa Depan DIY di Tangan Pelajar: Sekda Ingatkan Bahaya Kenakalan Remaja yang Mengintai
Saemen Fest 2026: Lineup, Venue Baru, Harga Tiket, dan Cara Beli
Pantai Watu Kodok Gunungkidul: Harga Tiket, Camping, Rute, Fasilitas, dan Sunset Memukau
Kemnaker Siapkan Lulusan Hadapi Era AI dan Green Jobs, Polteknaker Didorong Adaptif dan Multiskill
Motif Pengeroyokan Pelajar di Bantul Terungkap, Dipicu Balas Dendam Antargeng
Kasus Pengeroyokan Pelajar di Bantul: Dari Penculikan hingga Tewas, 7 Pelaku Terancam Hukuman Mati
Sultan Hamengku Buwono X Dorong Sinergi Daerah Wujudkan PSEL: Dari Tumpukan Sampah Menuju Sumber Energi Baru
Sumino, Nafas Tradisi dari Suara Kendang Gunungkidul
Sri Sultan HB X Dorong Keadilan Fiskal DIY di Tengah Pemangkasan Dana Transfer 2026
Mahasiswa di Banguntapan Bantul Ditangkap Polisi karena Pencurian Sepatu dan Tabung Gas Elpiji
BUDAYA
Sumino, Nafas Tradisi dari Suara Kendang Gunungkidul
Malam ini, Wayang Jogja Night Carnival 2024 Siap Memukau di HUT ke-268 Kota Yogyakarta
GAYA HIDUP
Pantai Watu Kodok Gunungkidul: Harga Tiket, Camping, Rute, Fasilitas, dan Sunset Memukau
Konser HUT ke-194 Bantul: Ndarboy Genk hingga NDX AKA Siap Guncang Panggung Malam Puncak
HARIANESIA
OLAHRAGA
PSS Sleman Siap Hadapi Liga 1 2024/2025 dengan Skuad Baru dan Ambisi Besar
GKR Hemas Ikut Nobar Indonesia Vs Iraq bersama Karang Taruna Kemantren Pakualaman di Alun-alun Sewandana
PENDIDIKAN
ZODIAK
Sifat Weton Jumat Wage yang Dinaungi Lintang Magelut dan Laku Pandita
Informasi Lengkap Weton Kelahiran 8 Februari 2023: Mulai dari Karakter, Pekerjaan, dan Jodoh
VIDEO
Masa Depan DIY di Tangan Pelajar: Sekda Ingatkan Bahaya Kenakalan Remaja yang Mengintai
Saemen Fest 2026: Lineup, Venue Baru, Harga Tiket, dan Cara Beli
Pantai Watu Kodok Gunungkidul: Harga Tiket, Camping, Rute, Fasilitas, dan Sunset Memukau
Kemnaker Siapkan Lulusan Hadapi Era AI dan Green Jobs, Polteknaker Didorong Adaptif dan Multiskill
Motif Pengeroyokan Pelajar di Bantul Terungkap, Dipicu Balas Dendam Antargeng
Kasus Pengeroyokan Pelajar di Bantul: Dari Penculikan hingga Tewas, 7 Pelaku Terancam Hukuman Mati
Sultan Hamengku Buwono X Dorong Sinergi Daerah Wujudkan PSEL: Dari Tumpukan Sampah Menuju Sumber Energi Baru
Sumino, Nafas Tradisi dari Suara Kendang Gunungkidul
Sri Sultan HB X Dorong Keadilan Fiskal DIY di Tengah Pemangkasan Dana Transfer 2026
Mahasiswa di Banguntapan Bantul Ditangkap Polisi karena Pencurian Sepatu dan Tabung Gas Elpiji