Mengenal Sejarah Jalan Malioboro, Ajaran Falsafah Hidup Warga Jogja dan 3 Keunikannya

HARIANE.JOGJA – Jalan Malioboro Yogyakarta, merupakan nama jalan yang paling populer di Jogja.

Jalan yang membentang dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Tugu Pal Putih ini syarat dengan nilai falsafah hidup warga Jogja.

Sementara bagi warga di luar Jogja akan mengenal Jalanan Malioboro yang legendaris ini sebagai surga oleh-oleh, belanja serta wisata kuliner.

Jalan Malioboro Yogyakarta pada malam hari akan lebih padat dan ramai karena banyak seniman yang mengekspresikan kemampuannya seperti musik, pantomim, melukis dan lainnya.

Jalan Malioboro Yogyakarta terdapat jalur pedestrian yang dilengkapi dengan beberapa tempat duduk yang telah disiapkan Pemerintah Kota Yogyakarta, agar wisatawan dalam negeri maupun mancanegara lebih nyaman dan menikmati suasana Malioboro.

Kawasan Malioboro selalu padat dikunjungi wisatawan, meski tidak berbelanja, Malioboro memang sangat apik ditangkap menggunakan kamera.

Sejarah Malioboro, Asal-usul Nama hingga Simbul Falsafah Hidup Warga Jogja

Jika disebut nama Jogja, maka kemungkinan besar salah satu hal yang langsung diingat orang adalah Jalan Malioboro. Jalan memanjang dari Tugu Jogja hingga alun-alun utara kraton Yogyakarta ini memang sangat ikonik di Jogja. Namun berapa banyakkah dari kita yang tahu asal-usul nama Malioboro?

Tidak seperti nama-nama jalan di jantung kota besar yang umumnya diambil dari nama pahlawan, nama jalan ikonik di Jogja ini terdengar sedikit ‘nyleneh’. Bahkan, beberapa orang suka menghubung-hubungkan dengan merk rokok impor.

Ada yang berpendapat bahwa nama Malioboro, jalan ikonik di Jogja ini berasal dari kata ‘Marlborough’ yang merupakan gelar Jenderal John Churchill (1650-1722) dari Inggris. Namun pendapat ini disanggah dengan adanya bukti sejarah bahwa jalan Malioboro sudah ada sejak berdirinya Ngayogyakarta Hadiningrat.

Peter Carey berpendapat bahwa jalan raya ini telah dibangun dan digunakan untuk tujuan seremonial tertentu selama lima puluh tahun sebelum orang Inggris mendirikan pemerintahannya di Jawa.

Nama jalan Malioboro sebagai jalan ikonik di Jogja memang sudah ada sejak berdirinya Kraton Yogyakarta yang kita kenal saat ini. Malioboro dalam bahasa Sansekerta memiliki arti karangan bunga. Kemungkinan hal itu berhubungan dengan kondisi jalan yang dipenuhi karangan bunga saat Kraton mengadakan acara besar di masa lalu.

Konon Malioboro dimaknai sebagai perjalanan menjadi wali (mali) dan ‘oboro’ yang berarti mengembara. Kawasan ini yang sebenarnya terdiri dari dua nama jalan utama yakni Margo Mulyo dan Margo Utomo merupakan bagian dari konsep ‘Sangkan Paraning Dumadi’, atau perjalanan manusia dari lahir hingga kembali kepada Sang Pencipta.

Sangkan Paraning Dumadi memiliki simpul-simpul utama yakni Panggung Krapyak-Keraton Yogyakarta-Tugu Jogja. Panggung Krapyak ke Keraton melambangkan sangkaning dumadi, atau perjalanan manusia sejak lahir, dewasa, hingga memiliki anak atau keluarga.

Sementara, Tugu Jogja melambangkan perjalanan manusia menuju akhir hayatnya. Konsep ajaran Pangeran Mangkubumi (Sri Sultan Hamengku Buwono I) ini telah ada sejak awal berdirinya Kasultanan Yogyakarta pada 1755.

Malioboro dulunya berfungsi sebagai rajamarga/jalan kerajaan, yang digunakan untuk kegiatan seremonial atau pun penyambutan tamu negara. Salain itu, di area Malioboro juga terdapat Kepatihan sebagai pusat pemerintahan dan Pasar Gede sebagai pusat perekonomian. Pasar Gede yang awalnya hanya tanah lapang, berkembang pesat dan mendapatkan julukan pasar terindah di Jawa.

Pada sekitar tahun 1870-an, seiring terbitnya Undang-undang Agraria, kawasan Malioboro mulai berkembang sentra ekonomi di Yogyakarta. Mulai tahun tersebut, Hindia-Belanda melaksanakan politik kolonial liberal atau disebut juga dengan Politik Pintu Terbuka (open door policy). Penanaman modal swasta mulai diperbolehkan masuk dan aturan kepemilikan tanah diperketat pada masa ini.

Adanya modal asing yang masuk, pada periode ini, mulai banyak dibangun stasiun, bank, pusat perdagangan, dan sekolah. Perekonomian semakin cepat berputar dan industry berkembang, salah satunya gula. Selanjutnya, pada awal abad ke-20, terjadi peningkatan jumlah pendatang di Yogyakarta dan membuat Malioboro menjadi jalan pertokoan paling sibuk hingga saat ini.

Begitulah perkembangan jalan Malioboro dari jalanan yang sepi dipenuhi pepohonan menjadi pusat perbelanjaan di Yogyakarta.

Malioboro sebagai jalan yang ikonik dan penuh makna filosofis akan kembali ditata sehingga tidak hanya digunakan sebagai pusat perbelanjaan saja. Malioboro menyimpan banyak kisah dan sejarah yang bisa memantik siapa saja yang melaluinya untuk merenungi kehidupan.

Konsep penataan wilayah di pusat kota ini sudah lama digagas oleh Pemerintah Daerah (Pemda) DIY. Tidak hanya sekadar memindah para pedagang kaki lima (PKL) tapi juga memikirkan seluruh aspek kebutuhan mereka agar lebih nyaman dan aman dalam mencari rejeki. Para PKL akan mendapatkan jaminan kepastian dalam berjualan menyangkut legalitas, status informal menjadi formal, program pembinaan, serta promosi.

Revitalisasi Jalan Malioboro

Mulai tahun 2019 diterapkan aturan baru bahwa setiap selasa wage kawasan Malioboro bebas dari kendaraan bermotor kecuali kendaraan umum trans jogja serta kendaraan pelayanan masyarakat seperti truk pengangkut sampah, ambulans, dan mobil pemadam kebakaran.

Selain bebas kendaraan bermotor, Pedagang Kaki Lima (PKL) yang ada di Malioboro juga tutup. Dengan adanya aturan baru ini, banyak kegiatan diselenggarakan setiap Selasa Wage di kawasan Malioboro. Hal ini membuat Malioboro tetap padat didatangi para wisatawan.

Akhirnya, pada awal 2022 ini, Jalan Malioboro dibebaskan sepenuhnya dari keberadaan PKL. Para pedagang di pedestarian Malioboro kemuadian direlokasi ke Teras Malioboro yang lokasinya masih di kawasan jalan Malioboro, yakni Teras Malioboro 1 di bekas gedung Bioskop Indra dan Teras Malioboro 2 berlokasi di bekas gedung Dinas Pariwisata Daersh Istimewa Yogyakarta (DIY).

Pembebasan ini dimulai dengan pendaftaran dan konsolidasi internal PKL Malioboro mulai dilakukan pada 22 – 31 Januari 2022. Pendaftaran dilakukan untuk menentukan titik lapak masing-masing paguyuban.

Setelah peresmian gedung baru tanggal 26 januari 2022, semua PKL Malioboro sepenuhnya dipindah pada tanggal 1 Februari 2022. Mulai bulan Februari 2022 tidak ada lagi PKL yang diperbolehkan berjualan di bagian selasar jalan Malioboro.

BACA JUGA:  Pasar Kakilangit, Destinasi Wisata Kuliner Jogja yang Wajib Dikunjungi Saat Berlibur ke Kota Budaya

Tiga keistimewaan Jalan Malioboro

Tiga keistimewaan ketika berkunjung ke kota Yogyakarta yang merupakan pilihan tepat untuk mengisi hari libur bersama keluarga terutama anak-anak.

Hal tersebut dikarenakan tempat wisata di Yogyakarta tidak hanya sekedar tempat wisata yang menyuguhkan panorama keindahan yang memikat hati, tapi juga menjadi sarana edukasi bagi anak-anak dalam mengenal kebudayaan serta sejarah yang ada di kota tersebut.

Salah satu yang menjadi ikon dari kota Jogja adalah jalan Malioboro Yogyakarta yang merupakan tempat yang selalu ramai baik siang maupun malam hari.

Dilansir dari Penanaman Modal Perizinan Jogja Kota Malioboro yang merupakan tempat belanja menjadi ikon dari kota yang dijuluki sebagai kota pelajar ini. Disana terdapat beberapa toko yang menjual oleh-oleh menarik khas dari kota Jogja.

Nah jika pengunjung kebetulan memilih hotel di Yogyakarta dekat Malioboro, kalian bisa sesering mungkin datang ke sini dan pada siang serta malam yang dilewati akan selalu terasa ramai dan berkesan.

Banyak sekali hal yang unik dari jalan Malioboro Yogyakarta ini, yaitu :

1. Andong

andong di Jalan Malioboro
Andong merupakan kendaraan khas para bangsawan Jogja yang kini difungsikan sebagai alat transportasi bagi para wisatan di Jalan Malioboro Yogyakarta (Foto: Unsplash/Farhan Abas)

Sarana transportasi yang satu ini merupakan ciri khas dari kota Yogyakarta. Yang membedakan dari andong di tempat lain yaitu andong disini memiliki roda empat dan ukurannya sedikit agak panjang dan besar sehingga mampu mengangkut penumpang lebih banyak lagi.

2. Batik Jogja

batik jogja
batik jogja dikenal memiliki nilai khas tersendiri (foto: unsplash/Camile Bismonte)

Pulau Jawa terkenal akan kain batiknya. Begitu juga dengan kota Yogyakarta yang memiliki motif tersendiri. Batik dari Jogja ini merupakan salah satu batik yang paling banyak digemari. Dan masih banyak pakaian lainnya yang menjadi ciri khas dari Jogja seperti kaos tulis dan pakaian adat Yogyakarta.

3. Kuliner Jogja

Kopi Klotok Jogja
Kopi Klotok Jogja di Jalan Kaiurang yang terkenal. (Foto: Visiting Jogja/@ariefnoviant)

Makanan dari Jogja adalah makanan yang terkenal dengan harganya yang murah serta rasanya yang luar biasa enaknya. Beberapa kuliner khas Jogja diantaranya adalah Gudeg, wedang jahe, nasi kucing, sate ayam mie godog dan masih banyak lainnya yang bisa pengunjung cicipi.

Jalan Malioboro Yogyakarta dengan tiga contoh keistimewaan itulah yang dimiliki kota pelajar ini. Selain itu, sekarang ini hotel di Yogyakarta dekat Malioboro selalu dipadat wisatawani. Nah jika pengunjung ingin menginap disana, maka bisa memesannya dari jauh hari melalui via internet. ****

dengan judul : Menelaah Jalan Malioboro Yogyakarta, Dengan 3 Keistimewaan yang Dimilikinya