HARIANE JOGJA – Perbedaan negative campaign dan black campaign seringkali menimbulkan kebingungan di masyarakat.
Pasalnya, perbedaan negative campaign dan black campaign memang tipis, karena keduanya sama-sama bernada negatif.
Oleh karena itu agar lebih jelas dalam memahami perbedaan negative campaign dan black campaign, berikut penjelasan yang sempat dibahas oleh politician academy dalam kanal YouTube-nya.
Perbedaan Negative Campaign dan Black Campaign
Negative Campaign

Kampanye pada dasarnya adalah upaya komunikasi yang dilakukan oleh pihak-pihak berkepentingan yang berupaya untuk mencapai sebuah tujuan dengan mempengaruhi opini publik.
Tujuan tersebut tidak selalu harus politis, bisa kampanye mengenai produk yang dijual, hingga program kerja suatu lembaga.
Sehingga, kampanye juga bisa digunakan untuk alasan yang politis. Lantas, apakah yang disebut dengan negative campaign?
Pada dasarnya, negative campaign adalah lawan dari positive campaign. Positive campaign dilakukan dengan mempromosikan hal-hal positif kandidat seperti kelebihan, nama baik, pencapaian, dan sebagainya.
Sedangkan negative campaign dilakukan dengan memaparkan kekurangan pihak lawan. Hal ini ditujukan untuk mendiskreditkan pihak lawan agar publik tidak memilih kandidat tersebut.
Sisi negatif lawan yang digunakan sebagai senjata bisa meliputi berbagai hal, mulai dari rumah tangga yang bermasalah, riwayat keluarga, hingga kebijakan yang dianggap gagal jika lawannya merupakan petahana.
Kata kunci utama yang menjadi perbedaan negative campaign dan black campaign adalah pada kebenaran informasi negatif tersebut.
Sebuah kampanye dapat disebut negative campaign jika informasi yang digunakan benar adanya, terlepas dari seberapa negatif isinya.
Black Campaign

Layaknya negative campaign, black campaign juga bertujuan untuk mendiskreditkan lawan dengan menggunakan informasi negatif mengenai kandidat lawannya.
Sebenarnya dalam sebuah kampanye, tidak ada salahnya menggunakan informasi negatif mengenai lawan politik.
Karena pada dasarnya sebuah kampanye politik bertujuan untuk menginformasikankan kepada masyarakat mengenai setiap kandidat yang terlibat dalam kontestasi.
Selama informasi yang diberikan adalah fakta yang bisa dicek keabsahannya, maka sah – sah saja dibeberkan kepada masyarakat, apalagi jika mengenai rekam jejak perpolitikan kandidat tersebut.
Namun jika informasi tersebut merupakan kebohongan, karangan, dan fitnah yang tidak memiliki dasar maka informasi tersebut menjadi tidak bermanfaat bagi masyarakat untuk menentukan pilihan.
Inilah perbedaan negative campaign dan black campaign yang utama. Black campaign menggunakan informasi negatif mengenai lawan politik yang sifatnya tidak benar, atau merupakan fitnah.
Black campaign selain dapat dijerat oleh undang-undang, namun juga dapat menimbulkan kekisruhan hingga perpecahan di tengah masyarakat.
Itulah informasi mengenai perbedaan negative campaign dan black campaign. Semoga dapat menjadi informasi yang bermanfaat dalam memahami perbedaan keduanya.**** (Kontributor: Putra Ramadhan)
Baca artikel menarik lainnya di hariane.com


Penulis dan Editor
-
Admin
-
Zakie Hakim
Masa Depan DIY di Tangan Pelajar: Sekda Ingatkan Bahaya Kenakalan Remaja yang Mengintai
Saemen Fest 2026: Lineup, Venue Baru, Harga Tiket, dan Cara Beli
Pantai Watu Kodok Gunungkidul: Harga Tiket, Camping, Rute, Fasilitas, dan Sunset Memukau
Kemnaker Siapkan Lulusan Hadapi Era AI dan Green Jobs, Polteknaker Didorong Adaptif dan Multiskill
Motif Pengeroyokan Pelajar di Bantul Terungkap, Dipicu Balas Dendam Antargeng
Kasus Pengeroyokan Pelajar di Bantul: Dari Penculikan hingga Tewas, 7 Pelaku Terancam Hukuman Mati
Sultan Hamengku Buwono X Dorong Sinergi Daerah Wujudkan PSEL: Dari Tumpukan Sampah Menuju Sumber Energi Baru
Sumino, Nafas Tradisi dari Suara Kendang Gunungkidul
Sri Sultan HB X Dorong Keadilan Fiskal DIY di Tengah Pemangkasan Dana Transfer 2026
Mahasiswa di Banguntapan Bantul Ditangkap Polisi karena Pencurian Sepatu dan Tabung Gas Elpiji
BUDAYA
Sumino, Nafas Tradisi dari Suara Kendang Gunungkidul
Malam ini, Wayang Jogja Night Carnival 2024 Siap Memukau di HUT ke-268 Kota Yogyakarta
GAYA HIDUP
Pantai Watu Kodok Gunungkidul: Harga Tiket, Camping, Rute, Fasilitas, dan Sunset Memukau
Konser HUT ke-194 Bantul: Ndarboy Genk hingga NDX AKA Siap Guncang Panggung Malam Puncak
HARIANESIA
OLAHRAGA
PSS Sleman Siap Hadapi Liga 1 2024/2025 dengan Skuad Baru dan Ambisi Besar
GKR Hemas Ikut Nobar Indonesia Vs Iraq bersama Karang Taruna Kemantren Pakualaman di Alun-alun Sewandana
PENDIDIKAN
ZODIAK
Sifat Weton Jumat Wage yang Dinaungi Lintang Magelut dan Laku Pandita
Informasi Lengkap Weton Kelahiran 8 Februari 2023: Mulai dari Karakter, Pekerjaan, dan Jodoh
VIDEO
Masa Depan DIY di Tangan Pelajar: Sekda Ingatkan Bahaya Kenakalan Remaja yang Mengintai
Saemen Fest 2026: Lineup, Venue Baru, Harga Tiket, dan Cara Beli
Pantai Watu Kodok Gunungkidul: Harga Tiket, Camping, Rute, Fasilitas, dan Sunset Memukau
Kemnaker Siapkan Lulusan Hadapi Era AI dan Green Jobs, Polteknaker Didorong Adaptif dan Multiskill
Motif Pengeroyokan Pelajar di Bantul Terungkap, Dipicu Balas Dendam Antargeng
Kasus Pengeroyokan Pelajar di Bantul: Dari Penculikan hingga Tewas, 7 Pelaku Terancam Hukuman Mati
Sultan Hamengku Buwono X Dorong Sinergi Daerah Wujudkan PSEL: Dari Tumpukan Sampah Menuju Sumber Energi Baru
Sumino, Nafas Tradisi dari Suara Kendang Gunungkidul
Sri Sultan HB X Dorong Keadilan Fiskal DIY di Tengah Pemangkasan Dana Transfer 2026
Mahasiswa di Banguntapan Bantul Ditangkap Polisi karena Pencurian Sepatu dan Tabung Gas Elpiji