HARIANE JOGJA – Skincare etiket biru baru-baru ini sangat mudah ditemukan di pasaran, baik secara online maupun offline.
Skincare etiket biru abal-abal sangat berbahaya bagi kulit, karena kandungan yang belum terjamin keamanannya.
Apa saja bahaya yang ditimbulkan skincare etiket biru abal-abal? Berikut informasinya yang dirangkum dari berbagai sumber.
Skincare Beretiket Biru Hanya Diresepkan Dokter

Etiket obat adalah label atau penanda obat yang diberikan oleh fasilitas kesehatan, baik dari praktik dokter, puskesmas, klinik, atau rumah sakit, seperti dilansir dari laman Itjen Kemendikbud.
Etiket tersebut berguna untuk memberikan informasi terkait cara penggunaan obat. Berdasarkan aturan yang berlaku, terdapat dua warna kertas etiket obat, yakni putih dan biru.
Etiket putih digunakan untuk obat dalam yang dikonsumsi melalui saluran pencernaan atau secara oral, seperti tablet, puyer, dan sirup. Sedangkan etiket biru digunakan untuk obat luar, seperti salep, krim, gel, bedak, dan obat suntik.
Dijelaskan oleh Ekida Rehan yang merupakan seorang dokter melalui unggahan di akun TikTok-nya, skincare beretiket biru hanya diresepkan oleh dokter, setelah pasien melakukan konsultasi dan diracik oleh apoteker di apotek yang telah mengantongi izin resmi.
Oleh karena itu, disarankan untuk tidak sembarangan membeli skincare beretiket biru di pasaran, karena produk itu ilegal, tidak resmi, dan kemungkinan berisi obat keras yang keamanannya belum dipastikan oleh dokter.
Penggunaan skincare tersebut tanpa resep dokter dapat menyebabkan dampak negatif bagi kesehatan kulit.
Berikut bahaya penggunaan skincare ini, yang dilansir dari unggahan akun TikTok dr. Farhan M.
Bahaya Skincare Etiket Biru Abal-abal

Skincare abal-abal biasanya tidak memiliki informasi lengkap terkait merek, komposisi, cara penggunaan, produsen, nomor BPOM dan batch, serta tanggal kedaluwarsa.
Skincare tanpa resep dokter dikhawatirkan mengandung bahan berbahaya, seperti hidrokuinon dan merkuri dalam dosis tinggi yang dapat menyerang sejumlah organ berikut:
1. Saraf
Dosis tinggi suatu obat keras dalam skincare abal-abal dapat menyebabkan neuropati perifer atau kerusakan saraf tepi.
2. Ginjal
Selain mengenai saraf, obat keras juga menimbulkan sindrom nefrotik, yakni gangguan ginjal yang menyebabkan kandungan protein tinggi dalam urin.
3. Kulit
Pengaruh skincare abal-abal akan langsung terlihat pada kulit dan dapat memunculkan efek yang lebih parah.
Bahaya skincare abal-abal terhadap kesehatan, tentunya tidak sebanding dengan khasiat instan yang ditawarkan.
Untuk mencegahnya, berikut tips memilih skincare aman yang disampaikan oleh Ekida melalui unggahan dalam akun TikTok-nya.
Tips Memilih Skincare yang Aman Bagi Kulit

Beli skincare di toko terpercaya atau official store dengan melihat informasi lengkap produk, meliputi merek, komposisi bahan, produsen, dan cara penggunaannya.
Jangan lupa memastikan produk terjamin aman dengan mengecek nomor BPOM, nomor batch, dan tanggal kedaluwarsa. Skincare abal-abal umumnya belum memiliki izin resmi dari Badan POM sehingga akan lebih mudah dikenali.
Sekian informasi mengenai skincare etiket biru abal-abal yang dapat mengancam kesehatan. **** (Kontributor: Kartika Puspita Dewi)


Penulis dan Editor
-
Admin
-
Tri Lestari
Masa Depan DIY di Tangan Pelajar: Sekda Ingatkan Bahaya Kenakalan Remaja yang Mengintai
Saemen Fest 2026: Lineup, Venue Baru, Harga Tiket, dan Cara Beli
Pantai Watu Kodok Gunungkidul: Harga Tiket, Camping, Rute, Fasilitas, dan Sunset Memukau
Kemnaker Siapkan Lulusan Hadapi Era AI dan Green Jobs, Polteknaker Didorong Adaptif dan Multiskill
Motif Pengeroyokan Pelajar di Bantul Terungkap, Dipicu Balas Dendam Antargeng
Kasus Pengeroyokan Pelajar di Bantul: Dari Penculikan hingga Tewas, 7 Pelaku Terancam Hukuman Mati
Sultan Hamengku Buwono X Dorong Sinergi Daerah Wujudkan PSEL: Dari Tumpukan Sampah Menuju Sumber Energi Baru
Sumino, Nafas Tradisi dari Suara Kendang Gunungkidul
Sri Sultan HB X Dorong Keadilan Fiskal DIY di Tengah Pemangkasan Dana Transfer 2026
Mahasiswa di Banguntapan Bantul Ditangkap Polisi karena Pencurian Sepatu dan Tabung Gas Elpiji
BUDAYA
Sumino, Nafas Tradisi dari Suara Kendang Gunungkidul
Malam ini, Wayang Jogja Night Carnival 2024 Siap Memukau di HUT ke-268 Kota Yogyakarta
GAYA HIDUP
Pantai Watu Kodok Gunungkidul: Harga Tiket, Camping, Rute, Fasilitas, dan Sunset Memukau
Konser HUT ke-194 Bantul: Ndarboy Genk hingga NDX AKA Siap Guncang Panggung Malam Puncak
HARIANESIA
OLAHRAGA
PSS Sleman Siap Hadapi Liga 1 2024/2025 dengan Skuad Baru dan Ambisi Besar
GKR Hemas Ikut Nobar Indonesia Vs Iraq bersama Karang Taruna Kemantren Pakualaman di Alun-alun Sewandana
PENDIDIKAN
ZODIAK
Sifat Weton Jumat Wage yang Dinaungi Lintang Magelut dan Laku Pandita
Informasi Lengkap Weton Kelahiran 8 Februari 2023: Mulai dari Karakter, Pekerjaan, dan Jodoh
VIDEO
Masa Depan DIY di Tangan Pelajar: Sekda Ingatkan Bahaya Kenakalan Remaja yang Mengintai
Saemen Fest 2026: Lineup, Venue Baru, Harga Tiket, dan Cara Beli
Pantai Watu Kodok Gunungkidul: Harga Tiket, Camping, Rute, Fasilitas, dan Sunset Memukau
Kemnaker Siapkan Lulusan Hadapi Era AI dan Green Jobs, Polteknaker Didorong Adaptif dan Multiskill
Motif Pengeroyokan Pelajar di Bantul Terungkap, Dipicu Balas Dendam Antargeng
Kasus Pengeroyokan Pelajar di Bantul: Dari Penculikan hingga Tewas, 7 Pelaku Terancam Hukuman Mati
Sultan Hamengku Buwono X Dorong Sinergi Daerah Wujudkan PSEL: Dari Tumpukan Sampah Menuju Sumber Energi Baru
Sumino, Nafas Tradisi dari Suara Kendang Gunungkidul
Sri Sultan HB X Dorong Keadilan Fiskal DIY di Tengah Pemangkasan Dana Transfer 2026
Mahasiswa di Banguntapan Bantul Ditangkap Polisi karena Pencurian Sepatu dan Tabung Gas Elpiji