Jathilan Daster di Bantul Dianggap Merusak Seni, Begini Klarifikasi Ketua Kelompok

HARIANE JOGJA – Video Jathilan daster di Bantul viral dan menuai tanggapan negatif dari masyarakat hingga pegiat seni.

Pertunjukan Jathilan daster di Jogja yang videonya viral tersebut dianggap sebagai sesuatu yang merusak dan merendahkan seni yang telah lama dikenal oleh masyarakat Yogyakarta dan Jawa Tengah ini.

Menanggapi soal viral video Jathilan pakai daster di Bantul, orang yang diduga merupakan ketua kelompok Jathilan pertunjukan tersebut pun memberikan klarifikasi.

Menurutnya, kostum tradisional Jathilan yang diganti menggunakan pakaian rumahan kaum wanita ini tujuannya adalah untuk memberikan hiburan bagi masyarakat yang bosan.

BACA JUGA:  Polisi Amankan Trio Pemuda Bantul Penjual Bahan Peledak, 11,5 Kilogram Obat Mercon Disita

Penampilan Jathilan Daster di Bantul Dianggap Merusak dan Merendahkan Seni

Jathilan dengan daster di Bantul
Jathilan dengan daster di Bantul. (Foto: TikTok/@alungptr)

Seperti dilansir dari akun TikTok @info_jathilan_jogja, sebuah unggahan video menampilkan Jathilan dengan beberapa pemain yang menggunakan daster alih-alih kostum pada umumnya.

Dari unggahan tersebut diketahui bahwa penampilan itu digelar di Taman Senja Ngelo, Pleret, Bantul, Yogyakarta.

Dalam kolom komentar unggahan, banyak masyarakat yang menyuarakan tanggapan kontra mereka terhadap penampilan dalam video.

Sebagian besar di antaranya mempertanyakan konsep dari penampilan tersebut. Sebagian lagi menganggap bahwa penampilan itu telah merusak dan merendahkan seni Jathilan.

Sebab penampilan tersebut telah menyalahi pakem atau ketentuan atau hukum-hukum yang telah disepakati sebagai ketentuan dalam sebuah genre pertunjukan tradisional.

Usai menjadi viral, akhirnya pihak yang mengaku sebagai Ketua Taman Senja Ngelo dan Pimpinan TSSM pun memberi klarifikasi.

BACA JUGA:  Ditemukan 37 Kasus Leptospirosis di Bantul, 6 Orang Meninggal Dunia
Jathilan daster di Bantul
Klarifikasi pihak penyelenggara Jathilan. (Foto: Grup Facebook JPA Lovers/Andi Saputro)

Seperti dilansir dari Facebook Tegar Ridho, pria yang bernama Ari itu mengungkap bahwa penampilan Jathilan daster di Jogja digelar karena banyak masyarakat yang mengeluh karena gerakan Jathilan monoton, hanya itu-itu saja.

Itulah yang mendasari adanya penampilan Jathilan dengan menggunakan baju daster tersebut.

Sebagai pembimbing paguyuban TSSM, dirinya juga meminta maaf jika telah menimbulkan keresahan.

Kalau memang keputusan memakai baju daster, membuat resah temen-temen sedulur seni, saya disini secara pribadi dan pembimbing paguyuban tssm meminta maaf kepada temen-temen semua,” tulisnya dikutip dari tangkapan layar percakapan WhatsApp.

Sejarah Kemunculan Seni Jathilan

Usai melihat video Jathilan daster di Jogja, banyak masyarakat hingga pegiat seni yang kemudian memberi tanggapan negatif karena seni ini juga dianggap memuat nilai-nilai sejarah yang kuat.

Seperti dilansir dari laman resmi Pemerintah Kapanewon Pengasih, Kulon Progo, kesenian ini juga dikenal dengan nama kuda lumping, jaran kepang, dan kuda kepang.

Kesenian ini berasal dari kalimat berbahasa Jawa, ‘jaranne jan thil-thillan tenan,’ yang dalam bahasa Indonesia berarti, ‘Kudanya benar-benar joget tak beraturan.’

Joget tak beraturan (thil-thillan) ini bisa dilihat khususnya ketika para penari telah kerasukan.

Meski tak ada sumber sejarah resmi mengenai Jathilan, tetapi ada beberapa versi kisahnya.

BACA JUGA:  Pameran Seni Rupa Perempuan dari 10 Negara Hadirkan Puluhan Karya Terbaik di Sangkring Art Space

Pertama, mengisahkan perjuangan Raden Fatah yang dibantu Sunan Kalijaga dalam melawan penjajahan Belanda.

Sunan Kalijaga dikenal sebagai sosok yang sering kali menggunakan budaya, tradisi, dan kesenian sebagai media pendekatan kepada rakyat sehingga cerita perjuangan Raden Fatah dan Sunan Kalijaga tersebut digambarkan dalam bentuk seni Jathilan.

Kedua, menggambarkan kisah prajurit Mataram yang sedang mengadakan latihan perang (gladen) di bawah pimpinan Sultan Hamengku Buwono I dalam persiapan menghadapi penjajah Belanda.

Ketiga, dikenang sebagai gambaran perjuangan masa Perang Jawa. Rakyat pendukung menggunakan kuda tiruan dari bambu sebagai bentuk apresiasi dan dukungan terhadap prajurit berkuda Pangeran Diponegoro yang gagah berani melawan penjajah Belanda.

Itulah info terbaru soal viralnya video Jathilan daster di Bantul yang menuai banyak respons negatif dari masyarakat. **** (Kontributor: Elmita Amalya Ahsani)

Baca artikel menarik lainnya di Hariane.com