Buku Awisan Dalem Batik Dibagikan Gratis di Hari Ke 2 Simposium Internasional Kebudayaan Jawa 2023

HARIANE JOGJA Buku Awisan Dalem Batik akan dibagikan dalam Simposium Internasional Kebudayaan Jawa 2023 hari kedua, Jumat, 9 Maret 2023.

Buku yang memuat tentang berbagai motif batik yang menjadi pakaian Keraton Yogyakarta itu dibagikan kepada peserta simposium yang hadir.

Buku yang dirilis pada hari yang sama itu juga menjelaskan berbagai motif batik yang masuk dalam larangan tertentu.

“Untuk detailnya seperti apa, akan dibahas lebih lanjut di sesi tersebut dan bukunya akan diagikan gratis bagi yang hadir di hari kedua simposium,” sebut KPH Notonegoro dikutip dari laman resmi Pemprov DIY.

Simposium Internasional Kebudayaan Jawa 2023

Diberitakan, International Symposium on Javanese Culture 2023 digelar selama dua hari mulai Kamis, 9 Maret 2023 di The Kasultanan Ballroom Royal Ambarrukmo.

Selama dua hari tersebut, simposium akan menghadirkan 4 sesi diskusi. Sesi 1 dan 2 akan digelar pada hari Kamis, sedangkan pada Jumat, akan dilaksanakan sesi 3 dan 4 serta satu sesi gelar wicara yang akan mengajak masyarakat Mengenal Lebih Dekat Keraton Yogyakarta.

Simposium Internasional Kebudayaan Jawa 2023 dihadiri oleh praktisi, akademisi, dan peneliti itu adalah rangkaian kegiatan Mangayubagya Tingalan Jumenengan Dalem atau peringatan kenaikan tahta Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai Raja Keraton Yogyakarta 34 tahun.

Melalui tema simposium, ‘Vegetasi: Makna dan Fungsinya dalam Menjaga Kelestarian Alam dan Tradisi di Keraton Yogyakarta’ ingin mengajak kembali masyarakat terutama generasi muda untuk mengenal kembali dan peduli dengan vegetasi yang ada di lingkungannya.

Putri pertama Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gusti Mangkubumi menyebut sejak Keraton Yogyakarta berdiri pada 1755, Sri Sultan Hamengku Buwono I menanamkan beragam filosofi yang selaras dengan alam.

Dicontohkan tentang penyusunan tumbuhan atau pepohonan di lingkungan Keraton mulai Tugu Yogyakarta hingga Panggung Krapyak.

Dimana penyusunan vegetasi itu dilakukan sedemikian rupa untuk mewakili simbol-simbol filosofi tertentu.

Ketua Panitia Simposium, GKR Hayu mengungkapkan momentum kenaikan tahta dan kembalinya 75 manuskrip digital menjadi langkah awal bagi keraton membuka diri agar nilai-nilai luhur dapat terus dilestarikan.

Keraton mengundang para akademisi, praktisi dan peneliti dari dalam dan luar negeri untuk berdiskusi terkait kekayaan vegetasi di lingkungan Keraton Yogyakarta mulai Desember 2022 lalu.

Melalui call for paper, panitia menerima 36 abstrak dari peneliti dalam dan luar negeri. Keseluruhan abstrak ditinjau oleh 4 reviewer, hingga mengerucut 12 paper terpilih untuk Simposium Internasional Kebudayaan Jawa 2023.

“Kami membuka kesempatan seluas-luasnya bagi para peneliti lintas generasi baik dari senior maupun junior dengan call for paper,” sebutnya usai pembukaan Simposium Internasional Kebudayaan Jawa 2023. ****

 

Temukan artikel menarik lainnya di hariane.com