HARIANEJOGJA – Sejarah singkat permainan latto latto menjadi hal yang menarik untuk diketahui, mengingat permainan ini kembali populer dalam beberapa waktu terakhir.
Dalam sejarah singkat permainan latto latto, diketahui bahwa ternyata permainan ini pernah dilarang di berbagai negara, seperti Mesir dan Amerika Serikat.
Untuk menyegarkan kembali ingatan tentang permainan ini, berikut sejarah singkat permainan latto latto, seperti diwartakan Groovy History.
Sejarah Singkat Permainan Latto Latto

Latto Latto, atau yang disebut juga sebagai tok tok dan clackers ball merupakan permainan yang berbentuk dua bola dari plastik atau kaca kokoh (tempered glass) yang disatukan dengan sebuah tali.
Permainan berbentuk pendulum ini kemudian diayunkan hingga kedua bola tersebut saling berbenturan dan menghasilkan bunyi ‘tok’ atau yang disebut ‘clack’ dalam bahasa inggris. Bunyi yang dihasilkan inilah sumber nama permainan ini.
Tujuan utama dari permainan yang telah ada sejak tahun 1960-an ini adalah untuk membenturkan kedua bola tersebut secepat mungkin dan sekeras mungkin.
Dalam sejarah singkat permainan latto latto, bahan dasar pembentuk bola latto latto adalah kaca, namun setelah terjadi berbagai insiden pecahnya bola, maka bahan pembuatnya kemudian diganti menjadi plastik.
Beberapa waktu yang lalu, sebuah sekolah di Lampung melarang siswanya membawa latto latto ke sekolah. Ini bukan pertama kalinya permainan ini menimbulkan kontroversi.
Pada 1971, Food and Drug Administration (FDA) mengeluarkan himbauan kepada seluruh rakyat Amerika Serikat terhadap bahaya dari latto latto.
Imbauan ini dikeluarkan karena adanya laporan setidaknya 4 kasus cedera yang melibatkan latto latto yang “meledak” ketika sedang dimainkan.
Meledaknya bola latto latto ini diakibatkan oleh bahan dari latto latto itu sendiri yang dulunya terbuat dari kaca seperti kelereng.
Untuk merespon kejadian itu, banyak produsen latto latto saat itu yang merubah bahan baku yang dipakai dari kaca menjadi plastik keras.
Perubahan ini terbukti mengurangi angka kecelakaan akibat latto latto. Namun, sayangnya reputasi permainan ini sudah terlanjur tercoreng.
Selain di Amerika Serikat, sejarah singkat permainan latto latto juga pernah dilarang di Mesir, bukan karena alasan keamanan, melainkan alasan yang cukup “unik”.
Pada sekitah tahun 2017, permainan latto latto sedang berada di puncak popularitasnya di Mesir, meski tidak jelas apakah kasus cedera serupa yang terjadi di Amerika Serikat juga terjadi di Mesir.
Alasan pelarangan latto latto dilarang di Mesir adalah karena permainan berbentuk pendulum ini dianggap menghina Abdel Fattah al-Sisi, presiden Mesir saat itu.
Permainan itu dianggap menghina presiden Mesir karena di negara Mesir permainan ini dikenal sebagai Sisi’s balls yang merujuk pada salah satu bagian dari alat kelamin sang presiden.
Dengan semakin populernya permainan latto latto ini, akhirnya pemerintah Mesir melakukan penangkapan terhadap penjual mainan, dan melakukan penyitaan karena mainan tersebut dianggap menghina pemerintah.
Sekian sejarah singkat permainan latto latto yang ternyata pernah dilarang di Amerika Serikat dan Mesir. **** (Kontributor: Putra Ramadhan)


Penulis dan Editor
-
Admin
-
Tri Lestari
Residivis Curi Tas Coach Rp3 Juta di Swalayan Yogyakarta, Aksi Terekam CCTV Berujung Penangkapan
Masa Depan DIY di Tangan Pelajar: Sekda Ingatkan Bahaya Kenakalan Remaja yang Mengintai
Saemen Fest 2026: Lineup, Venue Baru, Harga Tiket, dan Cara Beli
Pantai Watu Kodok Gunungkidul: Harga Tiket, Camping, Rute, Fasilitas, dan Sunset Memukau
Kemnaker Siapkan Lulusan Hadapi Era AI dan Green Jobs, Polteknaker Didorong Adaptif dan Multiskill
Motif Pengeroyokan Pelajar di Bantul Terungkap, Dipicu Balas Dendam Antargeng
Kasus Pengeroyokan Pelajar di Bantul: Dari Penculikan hingga Tewas, 7 Pelaku Terancam Hukuman Mati
Sultan Hamengku Buwono X Dorong Sinergi Daerah Wujudkan PSEL: Dari Tumpukan Sampah Menuju Sumber Energi Baru
Sumino, Nafas Tradisi dari Suara Kendang Gunungkidul
Sri Sultan HB X Dorong Keadilan Fiskal DIY di Tengah Pemangkasan Dana Transfer 2026
BUDAYA
Sumino, Nafas Tradisi dari Suara Kendang Gunungkidul
Malam ini, Wayang Jogja Night Carnival 2024 Siap Memukau di HUT ke-268 Kota Yogyakarta
GAYA HIDUP
Pantai Watu Kodok Gunungkidul: Harga Tiket, Camping, Rute, Fasilitas, dan Sunset Memukau
Konser HUT ke-194 Bantul: Ndarboy Genk hingga NDX AKA Siap Guncang Panggung Malam Puncak
HARIANESIA
OLAHRAGA
PSS Sleman Siap Hadapi Liga 1 2024/2025 dengan Skuad Baru dan Ambisi Besar
GKR Hemas Ikut Nobar Indonesia Vs Iraq bersama Karang Taruna Kemantren Pakualaman di Alun-alun Sewandana
PENDIDIKAN
ZODIAK
Sifat Weton Jumat Wage yang Dinaungi Lintang Magelut dan Laku Pandita
Informasi Lengkap Weton Kelahiran 8 Februari 2023: Mulai dari Karakter, Pekerjaan, dan Jodoh
VIDEO
Residivis Curi Tas Coach Rp3 Juta di Swalayan Yogyakarta, Aksi Terekam CCTV Berujung Penangkapan
Masa Depan DIY di Tangan Pelajar: Sekda Ingatkan Bahaya Kenakalan Remaja yang Mengintai
Saemen Fest 2026: Lineup, Venue Baru, Harga Tiket, dan Cara Beli
Pantai Watu Kodok Gunungkidul: Harga Tiket, Camping, Rute, Fasilitas, dan Sunset Memukau
Kemnaker Siapkan Lulusan Hadapi Era AI dan Green Jobs, Polteknaker Didorong Adaptif dan Multiskill
Motif Pengeroyokan Pelajar di Bantul Terungkap, Dipicu Balas Dendam Antargeng
Kasus Pengeroyokan Pelajar di Bantul: Dari Penculikan hingga Tewas, 7 Pelaku Terancam Hukuman Mati
Sultan Hamengku Buwono X Dorong Sinergi Daerah Wujudkan PSEL: Dari Tumpukan Sampah Menuju Sumber Energi Baru
Sumino, Nafas Tradisi dari Suara Kendang Gunungkidul
Sri Sultan HB X Dorong Keadilan Fiskal DIY di Tengah Pemangkasan Dana Transfer 2026