5 Fakta Tentang Vaping, Benarkah Lebih Aman Dari Rokok Konvensional?

HARIANE JOGJA-Beberapa fakta tentang vaping perlu diketahui oleh para pecandu rokok elektrik atau yang sering disebut “vaping”.

Benarkah bahaya vaping sama buruknya atau bahkan lebih membahayakan dengan merokok yang dapat merusak organ-organ dalam tubuh, merugikan kesehatan, dan dapat menyebabkan kematian.

Untuk mengurangi kecanduan nikotin, biasanya sebagian orang menggunakan rokok elektrik atau vaping sebagai cara untuk memudahkan transisi dari rokok konvensional hingga tidak merokok sama sekali.

Berikut beberapa fakta tentang vape atau vaping yang perlu diketahui oleh pecandu rokok elektrik ataupun yang ingin transisi dari rokok konvensional ke rokok elektrik.

BACA JUGA:  Kenali 7 Tanda Pasangan Berpotensi Melakukan KDRT, Jangan Sampai Jadi Korban

5 Fakta Tentang Vaping yang Perlu Diketahui

Dilansir dari laman John Hopkins Medicine, ada beberapa informasi mengenai dampak rokok elektrik yang perlu diketahui.

1. Bahan Kimia Vaping Lebih Sedikit, Tetapi Tetap Tidak Aman

Fakta Tentang Vaping
Fakta tentang vaping, tidak lebih baik dari rokok konvensional.(Ilustrasi: Freepik/prostooleh)

Vaping memanaskan nikotin, perasa dan bahan kimia lainnya untuk menciptakan aerosol yang dihirup.

Bahan kimia berracun yang terdapat dalam vaping lebih sedikit dibandingkan dengan rokok konvensional yang terdapat 7000 bahan kimia.

Kasus cedera paru-paru yang terkait dengan penggunaan vaping pada tahun 2020 disebabkan oleh orang-orang yang memodifikasi perangkat vaping atau yang diperoleh dari modifikasi di pasar gelap.

Namun, penggunaan vaping juga belum tentu aman sebab penelitian dari Johns Hopkins University pada 2021 mengungkapkan ribuan bahan kimia dalam produk vape, sebagian besar belum teridentifikasi.

2. Vaping Berbahaya Bagi Jantung dan Paru-paru

 Fakta Tentang Vaping
Fakta tentang vaping, berbahaya Bagi Jantung dan Paru-paru. (Ilustrasi: Freepik/freepik)

Nikotin merupakan zat utama baik dalam rokok konvensional maupun rokok elektrik dan sangat adiktif.

Nikotin adalah zat beracun yang dapat meningkatkan tekanan darah dan memicu adrenalin, mempengaruhi denyut jantung dan kemungkinan bisa terjadi serangan jantung.

Zat kimia berracun yang terdapat dalam rokok elektrik juga dapat menyebabkan luka pada paru-paru dan dapat menyebabkan kematian.

Dilansir dari laman Makati Medical Center, penggunaan vape yang konsisten juga dapat menyebabkan kondisi mulut dan gusi menjadi hitam.

Nikotin mengurangi aliran darah dan nutrisi ke gusi. Jaringan gusi yang rusak dapat menyebabkan berbagai masalah mulut lainnya.

Selain dari pada itu bahaya vaping lainnya termasuk bahan kimia yang membentuk uap dan efeknya terhadap kesehatan fisik dalam jangka panjang.

3. Vaping Sama Adiktifnya dengan Rokok Konvensional

Fakta Tentang Vaping
Fakta tentang vaping, sama adiktifnya dengan rokok konvensional (Ilutrasi:Freepik/macrovector)

Fakta tentang vape selanjutnya adalah bahwa baik rokok tradisional maupun rokok elektronik mengandung nikotin.

Satu-satunya perbedaan adalah rokok tradisional memberikan nikotin ke tubuh dengan membakar tembakau sedangkan vaping dengan memanaskan cairan yang berubah menjadi uap dan aerosol.

Uap yang mengandung nikotin ini membuat rokok elektrik sama adiktifnya dengan rokok tradisional.

Lebih buruk lagi terjadi pada orang yang ingin berhenti merokok tetapi sudah menderita kecanduan nikotin.

Sebagian besar pecandu nikotin pengguna vaping ingin mendapatkan lebih banyak nikotin daripada yang mereka dapatkan dari produk tembakau yang dapat terbakar.

Pengguna dapat membeli kandungan nikotin yang lebih kuat, yang memiliki konsentrasi nikotin yang lebih tinggi, atau meningkatkan tegangan vape untuk mendapatkan zat yang lebih besar.

BACA JUGA:  Cara Diet Ala Mr Beast Berhasil Pangkas Lemak Setengahnya, Salah Satunya Jalan Kaki 12 Ribu Langkah

4. Vaping Bukan Pilihan yang Tepat untuk Berhenti Merokok

Fakta Tentang Vaping
Vaping bukan pilihan yang tepat untuk berhenti merokok.(Ilustrasi:Freepik/Racool_studio)

Meskipun diperkenalkan sebagai salah satu cara transisi untuk berhenti merokok, rokok elektrik belum menerima persetujuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebagai alat berhenti merokok.

Bahkan sebagian besar orang yang bermaksud menggunakan rokok elektrik untuk berhenti dari kebiasaan nikotin akhirnya tetap menggunakan rokok konvensional dan vaping atau penggunaan ganda.

Oleh karena itu vaping bukan cara yang efektif untuk berhenti dari kebiasaan merokok. Satu satunya cara adalah berhenti merokok sepenuhnya, termasuk rokok elektrik

5. Vaping Dapat Mempengaruhi Perkembangan Otak Remaja

Fakta Tentang Vaping
Fakta tentang vaping, dapat menghambat perkembangan otak remaja.(Ilustrasi:Freepik/freepik)

Bahaya vaping selanjutnya adalah bahwa alat ini dapat mempengaruhi perkembangan otak, khususnya remaja.

Banyak cairan rokok elektrik dibuat dengan berbagai rasa, seperti buah-buahan atau permen, yang menarik bagi remaja dan kaum muda.

Paparan nikotin pada usia yang begitu muda dapat menghambat perkembangan otak dan menyebabkan kecanduan.

Hal yang paling mengkhawatirkan tentang meningkatnya vaping adalah bahwa orang-orang yang seharusnya tidak pernah merokok, terutama kaum muda, mulai menggunakan kebiasaan vaping karena mengikuti trend.

Tidak ada cukup bukti untuk menyatakan bahwa vaping merupakan metode yang yang tepat untuk berhenti dari kebiasaan merokok konvensional.

Cara terbaik untuk berhenti merokok adalah dengan secara bertahap mengurangi konsumsi nikotin, menjauhinya dan kemudian berhenti sepenuhnya.

Penelitian tentang rokok elektrik masih terus dilakukan oleh para pakar. Oleh karena itu fakta-fakta tentang vaping mungkin terus berkembang seiring dengan penelitian yang terus dilakukan.**** (Kontributor: Edmundus Roke Wea)

Baca artikel menarik lainnya di Hariane.com