Makna Kapal Tujuh Provinsi yang Diperingati 5 Februari, Perlawanan Pertama Pelaut Indonesia

HARIANE JOGJA – Kapal Tujuh Provinsi merupakan salah satu peristiwa pemberontakan laut yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia dan diperingati setiap 5 Februari.

Hari Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi merupakan peristiwa perlawanan pertama yang diinisiasi para pelaut Indonesia setelah Sumpah Pemuda pada Oktober 1928.

Bagi yang cari info soal 5 Februari memperingati hari apa, ternyata pada hari ini ada Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi yang meledak pada tanggal 3 Februari 1933 dan menjadi salah satu momentum menuju kemerdekaan Indonesia.

Momentum ini sangat bersejarah karena menjadi perlawanan pelaut Indonesia pertama atas kebijakan semena-mena pemerintah Hindia Belanda.

BACA JUGA:  8 Instansi yang Buka Pendaftaran Sekolah Kedinasan 2023, Kemenhub Siapkan 1.408 Formasi

Awal Mula Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi

Kapal Tujuh Provinsi
Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi menjadi salah satu momentum penting dalam sejarah menuju kemerdekaan Indonesia. (Foto: YouTube/Rantai Sejarah)

Dilansir dari channel YouTube Rantai Sejarah, saat pemerintah Hindia Belanda masih menduduki Indonesia, banyak ABK kapal yang dididik dan dibayar murah untuk membantu kapal-kapal milik pemerintah.

Peristiwa pemberontakan Kapal Tujuh bermula saat tanggal 1 Januari 1933, pemerintah Hindia Belanda yang dipimpin oleh Gubernur Jenderal Bonifacius Cornelis de Jonge menerapkan kebijakan pemotongan upah ABK sebesar 17% untuk menekan defisit akibat depresi ekonomi kala itu.

Pada 30 Januari 1933, terjadi protes besar-besaran yang dilakukan oleh para pelaut Indonesia dan jajaran angkatan laut Hindia Belanda di Surabaya.

Pemerintah akhirnya mengerahkan KNIL (Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda dan pasukan lain untuk menghentikan aksi protes.

Seluruh pihak diancam untuk diam dan tidak menyebarluaskan tentang protes dan pemogokan kerja yang terjadi di Surabaya tersebut.

Meskipun demikian, berita aksi tersebut tetap sampai ke pelaut Indonesia di luar Surabaya. Salah satunya adalah pelaut Kapal Tujuh Provinsi (De Zeven Provincien).

BACA JUGA:  Sejarah Singkat Permainan Latto Latto, Pernah Dilarang di Beberapa Negara

ABK Kapal Tujuh pun merencanakan pemogokan dan perlawanan atas kebijakan pemerintah tersebut.

Seperti yang ditulis oleh Helenerius Ajo Leda dalam esainya dengan judul “Pemberontakan Kapal Tujuh Provinsi” dan dipublikasikan di Academia pada 2018, peristiwa ini diambil dari nama kapal tempat perlawanan terjadi.

De Zeven Provincien adalah armada kapal perang milik Angkatan Laut Pemerintah Hindia Belanda.

Terjadinya Perlawanan di atas Kapal Tujuh Provinsi

Pada 28 Januari 1933, mendekati Idul Fitri, para pelaut Indonesia dan Belanda menggelar rapat tertutup.

Rapat itu pura-pura membahas rencana penyambutan lebaran, tetapi sebetulnya mempersiapkan pemogokan.

Paraja dan Rumambi, dua awak kapal Indonesia, memimpin gerakan untuk pemberontakan di atas kapal tujuh. Pada pertemuan itu diputuskan mereka akan membawa Kapal Tujuh ke Surabaya.

Pada 5 Februari, Kapal Tujuh berhasil dikuasai pihak pelaut Indonesia. Para pelaut pemberani ini kemudian melakukan siaran pers dalam tiga bahasa, yaitu Belanda, Inggris, dan Indonesia (Melayu).

Mereka menyebarluaskan informasi bahwa Kapal perang De Zeven Provincien sudah diambil-alih oleh awak kapal dan sedang bergerak ke Surabaya.

BACA JUGA:  Hari Raya Galungan 2023 Jatuh Hari Ini, Simak Makna dan Sejarah Lengkapnya
Kapal Tujuh Provinsi
Moud Boshart, perwira radio Belanda yang turut menyebarkan informasi soal pemberontakan ABK Indonesia. (Foto: YouTube/Rantai Sejarah)

Mendengar berita pemberontakan ini, Belanda mengirimkan sebuah kapal untuk mengejar, yaitu Aldebaren.

Begitu kapal Aldebaren mendekat, Kapal Tujuh memberikan sinyal akan menembak jika kapal tersebut berani mendekat. Kapal Aldebaren pun mundur dan berhenti mengejar.

Belanda kemudian mengirim kapal penebar ranjau, Goudenleeuw, untuk melakukan pengejaran.

Tetapi kapal ini tidak berani untuk terlalu mendekat karena kedua kapal pengejar ini memiliki meriam lebih kecil dan kalah persenjataan dibanding kapal tujuh.

Pada 5 Februari, kapal sudah berada di pulau Berueh, hingga akhirnya tanggal 10 Februari sampai di Selat Sunda.

Begitu memasuki Selat sunda, pihak Belanda mengirimkan kapal perang “Java”, dan dikawal dua kapal torpedo: Piet Hien dan Evetsen untuk mengejar Kapal Tujuh Provinsi.

Martin Paraja dan kawan-kawan kembali menyatakan menolak untuk menyerah. Pada hari Jumat, 10 Februari 1933, tepat am 09.18 WIB, bom pertama berukuran 50 kg mulai dijatuhkan, tetapi belum mengenai sasaran.

BACA JUGA:  Sejarah Penyakit Pele Hingga Meninggal, Sudah Hidup dengan Satu Ginjal Sejak 1970-an

Bom kedua dijatuhkan dan tepat mengenai geladak kapal. Pemberontak kapal tujuh memberikan perlawanan.

Kapal tersebut ternyata tidak dilengkapi dengan meriam penangkis serangan udara. Martin Paradja, yang memimpin pemberontakan ini, tewas saat pemboman itu.

Sebanyak 20 awak asal Indonesia dan 3 awak Belanda juga dinyatakan tewas akibat serangan itu. Di antara yang gugur adalah Sagino, Amir, Said Bini, Miskam, Gosal, Rumambi, Koliot, Kasueng, Ketutu Kramas, Mohammad Basir, dan Simon.

Dalam peristiwa Kapal Tujuh Provinsi diketahui terdapat 545 ABK bangsa Indonesia dan 81 ABK bangsa Belanda ditahan akibat perlawanan itu. **** (Kontributor: Meilisa Jibrani)

Baca artikel lainnya di Hariane.com