Masa Depan DIY di Tangan Pelajar: Sekda Ingatkan Bahaya Kenakalan Remaja yang Mengintai

HARIANE JOGJA – “Sungguh sayang jika potensi sebesar itu padam hanya karena satu malam yang salah.”

Kalimat menusuk itu disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, saat membacakan amanat Gubernur DIY di hadapan ribuan pelajar SMA/SMK se-DIY, Senin (20/7).

Sebuah peringatan keras di tengah meningkatnya kasus kenakalan remaja yang kini tak lagi sekadar pelanggaran disiplin, namun telah merambah ke tindak pidana di ruang publik.

Hadir sebagai pembina upacara di SMA Negeri 1 Yogyakarta, Ni Made menyampaikan pesan menggugah bahwa masa depan Yogyakarta sedang dibangun di ruang-ruang kelas hari ini, bukan di kemudian hari.

“Kalian bukan sekadar siswa SMA/SMK. Kalian adalah calon dokter, guru, teknisi, pengusaha, seniman, anggota TNI, Polri, bahkan pemimpin bangsa di masa depan,” ujarnya di hadapan seluruh peserta upacara.

Eling lan Waspada: Falsafah Jawa dalam Menghadapi Ancaman Modern

Peringatan ini menjadi bagian dari gerakan serentak Pemerintah Daerah DIY sebagai tindak lanjut Instruksi Gubernur DIY Nomor 6512 Tahun 2026 tentang Penanganan Kenakalan Anak Usia Sekolah yang Berujung pada Tindak Pidana.

Ni Made mengungkapkan fakta memprihatinkan bahwa DIY sebagai pusat pendidikan dan budaya justru dihadapkan pada kenyataan pahit.

Kenakalan remaja tak lagi batas tawuran antarpelajar, namun telah meningkat pada aksi membawa senjata tajam hingga penyalahgunaan pil sapi dan minuman oplosan.

“Dampaknya bisa merusak diri dan mental anak-anak. Masa depan mereka tentu akan terhambat apabila terjerumus pada sesuatu yang bersifat adiktif,” tegas Ni Made.

Ia mengingatkan bahwa semua tindakan negatif berawal dari keputusan kecil yang salah. Karena itu, ia mengajak pelajar menghidupkan falsafah Eling lan Waspada—ingat siapa diri sesungguhnya dan waspada terhadap bahaya yang datang dengan wajah menyenangkan namun berujung penyesalan.

Kolaborasi Jaga Warga dan Call Center 110: Benteng Perlindungan Pelajar

Pemerintah DIY tidak tinggal diam. Berbagai langkah strategis telah disiapkan, termasuk penguatan inisiatif Jaga Warga sebagai garda sosial terdepan untuk mengawasi anak-anak di jam rawan.

Masyarakat diimbau menegur dengan santun, melapor bila melihat tanda bahaya, dan memanfaatkan layanan Call Center 110 apabila menemukan kondisi yang memerlukan penanganan kepolisian.

“Yang kita lawan adalah perilakunya, bukan masa depan anaknya,” tegas Ni Made.

Pesan ini menjadi penegasan bahwa negara hadir untuk melindungi, namun tetap tegas dalam penegakan hukum. Ruang pembinaan dan pemulihan tetap terbuka bagi pelajar yang tersesat.

Deklarasi Pelajar Jogja: Komitmen Generasi Santun dan Cinta Damai

Puncak kegiatan ditandai dengan pembacaan Deklarasi Pelajar Jogja Santun dan Cinta Damai. Seluruh siswa dan warga SMA N 1 Yogyakarta menyatakan komitmen:

✅ Menolak segala bentuk kekerasan dan perundungan
✅ Menolak penggunaan dan peredaran narkoba
✅ Menolak minuman beralkohol
✅ Menolak aktivitas pornografi dan pornoaksi
✅ Berani melaporkan setiap pelanggaran di lingkungan sekolah

Respon Positif Sekolah: “Anak-anak Sangat Terbuka kepada Kami”

Plt. Kepala SMA Negeri 1 Yogyakarta, Siti Hajarwati, mengapresiasi keterlibatan langsung pemerintah dalam pembinaan karakter pelajar.

“Anak-anak tentu merasa berkesan karena pemerintah turun langsung ke sekolah,” ujarnya.

Yang membanggakan, hingga saat ini SMA N 1 Yogyakarta belum menemukan kasus penyalahgunaan narkoba maupun kenakalan remaja. Siti berharap kondisi ini tetap terjaga melalui keterbukaan siswa dan soliditas tim sekolah.

“Alhamdulillah belum ada, dan mudah-mudahan tidak akan ada sampai kapan pun,” pungkasnya.

Pilihan di Tangan Pelajar

Ni Made mengakhiri amanatnya dengan ajakan kuat: pilih lingkungan pertemanan yang membangun, pilih keberanian melapor, pilih pulang tepat waktu, dan pilih menghormati orang tua.

“Menjaga diri sendiri adalah bentuk penghormatan kepada mereka yang telah bekerja keras membesarkan kalian.”

Masa depan DIY bukanlah janji, melainkan keputusan yang diambil para pelajar mulai hari ini. Akankah mereka memilih menjadi generasi berprestasi, berkarakter, dan bermartabat? Semua bergantung pada pilihan yang mereka ambil di setiap langkah kehidupan.