Kenali 7 Tanda Pasangan Berpotensi Melakukan KDRT, Jangan Sampai Jadi Korban

HARIANE JOGJA – Tanda pasangan berpotensi melakukan KDRT sebenarnya dapat dikenali dari perilaku dan karakter dalam kesehariannya.

Sayangnya, tanda pasangan berpotensi melakukan KDRT kerap kali tertutup oleh pesonanya yang tinggi, misalnya pasangan yang terkesan begitu cerdas, tampan, dan tampak mengayomi.

Padahal, tanda pasangan berpotensi melakukan KDRT akan makin baik jika diketahui sejak awal. Sebab jika KDRT terjadi setelah pernikahan, masalah akan lebih rumit sehingga butuh banyak waktu dan biaya yang harus dikeluarkan.

BACA JUGA:  Ketahui 4 Tipe Kepribadian DISC Ini, Penting untuk Menentukan Karir

Tanda Pasangan Berpotensi Melakukan KDRT

Roslina Verauli, M.Psi.,Psi. melalui akun Instagramnya menyampaikan beberapa tanda pasangan berpotensi melakukan KDRT. Berikut ini di antaranya.

1. Memiliki Riwayat Kekerasan

Pasangan pernah menjadi korban atau terbiasa dengan kekerasan di sekitarnya. Artinya, ia punya model tentang perilaku agresif.

2. Agresif atau Menoleransi Kekerasan

Masyarakat Indonesia cenderung menoleransi kekerasan. Apa-apa diselesaikan dengan jalan kekerasan. Jika termasuk orang yang menoleransi kekerasan, ada kemungkinan pasangan juga berpotensi melakukannya.

3. Meledak-Ledak

Tanda pasangan berpotensi melakukan KDRT berikutnya adalah jika pasangan merupakan orang yang cenderung meledak-ledak dengan menggunakan agresivitas. Pola ini sudah muncul di awal hubungan, meski nantinya disesali atau diperbaiki.

4. Cenderung Mudah Menyalahkan Orang Lain

Dilansir dari laman Fakultas Psikologi Universitas Medan Area, hal ini dikenal sebagai proyeksi psikologi atau mengalihkan emosi yang tidak diinginkan berasal diri sendiri pada orang lain, termasuk menyalahkan orang lain untuk melindungi ego diri.

Jika pasangan memiliki karakter demikian, kemungkinan ia melakukan KDRT cukup tinggi. Pasangan seperti ini akan cenderung mencari pembenaran atas dirinya, bahkan jika harus dilakukan dengan kekerasan.

BACA JUGA:  Mengenal Prinsip Pareto Rule, Gunakan 4 Aturan Ini untuk Hidup Lebih Efektif

5. Posesif

Dalam jurnal berjudul ‘Perilaku Posesif dalam Gaya Berpacaran Di Kalangan Remaja Kota Denpasar’ yang ditulis Erysa Ayu Fadhilah di laman Universitas Udayana disimpulkan bahwa dalam hubungan yang posesif ditemukan berbagai hal mengarah pada bentuk kekerasan fisik maupun verbal (psikis).

Sikap posesif memiliki kecenderungan rasa memiliki kekuasaan berlebih, kontrol, dan dominasi atas objek yang dicintai. Apa saja bisa dilakukan untuk dapat mengendalikan objek yang dicintai, termasuk melalui kekerasan.

6. Cemburuan

Dikutip dari laman Oxfam, penelitian yang dilakukan Studi Oxfam pada beberapa narapidana kasus pembunuhan di Inggris mengungkapkan bahwa pelaku melakukan kejahatannya atas dasar kecemburuan pada pasangan seksual mereka.

7. Pahami Budaya dalam Keluarganya

Amati, apakah keluarga pasangan memiliki stres tinggi yang melibatkan kekerasan. Atau, keluarga pasangan menganut ketidaksetaraan gender, misalnya budaya patriarki, di mana dominasi ada pada laki-laki yang diperoleh melalui kekerasan dan power.

Tanda Pasangan Berpotensi Melakukan KDRT
Pasangan akan minta maaf dan menunjukkan kasih sayang berlebih setelah melakukan kekerasan. (pexels/vie-studio)

Pahami Siklus KDRT

Dikutip dari laman Komnas Perempuan, bentuk-bentuk kekerasan yang tertuang dalam UU PKDRT meliputi kekerasan fisik (Pasal 6), kekerasan psikis (Pasal 7), kekerasan seksual (Pasal 8), dan penelantaran rumah tangga (Pasal 9).

Sayangnya, korban KDRT sendiri cenderung denial pada perilaku pasangan yang berpotensi atau malah pernah melakukan kekerasan terhadapnya dan berharap pasangan dapat berubah di kemudian hari.

Oleh karena itu, selain tanda pasangan berpotensi melakukan KDRT, sebaiknya pahamilah juga siklus yang kerap terjadi dalam kasus KDRT!

Dilansir dari lama Healthdirect, siklus dimulai dari fase build up atau penumpukan ketegangan. Jika sudah banyak konflik yang memicu ketegangan dalam hubungan, maka akan berlanjut ke fase the explosion atau ledakan, di mana kekerasan biasanya akan terjadi.

Setelah itu, mungkin pasangan akan merasa menyesal sehingga masuk pada fase remorse. Pasangan merasa malu dengan perilakunya, lalu meminta maaf, memohon pengampunan, dan berjanji tidak akan mengulangi lagi.

BACA JUGA:  Jadwal Perayaan Imlek dan Cap Go Meh Singkawang 2023, Hadir Kembali Setelah 2 Tahun Ditiadakan

Fase terakhir adalah honey moon atau bulan madu, di mana pasangan mungkin akan memberikan hadiah dan kasih sayang berlebih. Hal ini membuat kekerasan yang terjadi terlupakan begitu saja.

Jika sudah di fase honey moon, sebaiknya korban berhati-hati karena biasanya KDRT bisa terulang kembali mulai dari fase yang pertama. Siklus kemudian akan terus berputar, jika korban juga terus memberikan pemakluman..

Mengenali tanda pasangan berpotensi melakukan KDRT adalah langkah awal yang baik untuk mendapatkan hubungan yang sehat. Sebab, KDRT bukan hanya merugikan secara fisik tetapi juga menimbulkan dampak psikologi yang serius. **** (Kontributor: Eni Damaya)

 

Baca artikel menarik lainnya di hariane.com