Rangkaian Perayaan Grebeg Sudiro 2023 Imlek di Solo, Tampilkan Budaya Jawa dan Tionghoa

HARIANE JOGJA – Perayaan Grebeg Sudiro 2023 merupakan acara yang diadakan secara rutin setiap Lunas New Year atau Tahun Baru Cina oleh masyarakat Kota Surakarta.

Perayaan Grebeg Sudiro 2023 ini dihiasi dengan lampu berwarna merah dan kuning yang menggantung di atas jalan Kawasan Pasar Gede di ruas jalan Urip Sumoharjo hingga depan Balai Kota Solo di jalan Jenderal Sudirman.

Perayaan Grebeg Sudiro 2023 berbeda dengan tahun sebelumnya karena meredanya kasus Covid-19. Tahun ini perhelatan Grebeg Sudiro dapat digelar hingga Jembatan Kali Pepe sehingga lebih ramai dari sebelumnya.

Melalui Instagram Pemerintah Kota Solo, Grebeg Sudiro akan digelar selama Imlek berlangsung hingga akhir bulan Januari.

Tradisi ini digelar mulai pukul 19.00 hingga 23.00 WIB sehingga bisa menjadi destinasi wisata malam untuk warga Surakarta dan sekitarnya.

BACA JUGA:  Wisata Gunung Bromo Ditutup Total Saat Nyepi 2023, Simak Jadwal dan Penutupan Jalurnya

Jadwal Acara Perayaan Grebeg Sudiro 2023

Perayaan Grebeg Sudiro 2023
Rangkaian acara Grebeg Sudiro telah diatur oleh Pemerintah Kota Solo (Ilustrasi: Pixabay/ cegoh)

Festival telah dilangsungkan sejak 12 Januari 2023 yang dilanjutkan dengan berbagai macam event kesenian dan kebudayaan bernuansa Tionghoa dan Jawa.

Berikut adalah jadwal rangkaian acara perayaan Grebeg Sudiro 2023 yang bisa jadi agenda wisata seru di Solo:

1. 12 Januari: Umbul Mantram
2. 15 Januari: Karnaval Budaya
3. 10-30 Januari: Bazar Potensi
4. 10-30 Januari: Panggung Pentas Seni
5. 10-30 Januari: Wisata Perahu Hias
6. 21 Januari: Panggung Harmoni Sudiro

Sedangkan pengunjung yang menggunakan kendaraan pribadi untuk datang menikmati acara, bisa memanfaatkan lokasi parkir di beberapa tempat berikut ini:

1. Gedung Parkir Ketandan
2. Jalan RE Martadinata
3. Jalan Urip Sumoharjo
4. Jalan Suryo Pranoto
5. Jalan Arifin
6. Benteng Vastenburg
7. Jalan Ronggowarsito

Acara tahunan Imlek membuat beberapa tempat seperti Kali Pepe berubah. Awalnya tempat ini hanya digunakan untuk wahana perahu namun sejak perayaan Grebeg Sudiro 2023 tepian kali dihiasi oleh puluhan lampion dan menjadi spot foto anak-anak muda untuk diunggah di media sosial.

BACA JUGA:  Wisata Air di Gunung Kidul, Goa Pindul Tawarkan Paket Susur Sungai yang Menarik

Pemerintah Surakarta pun menjelaskan bahwa Grebeg Sudiro punya nilai sejarah budaya yang penting dan menjadi perpaduan dua budaya yakni Jawa dan Tionghoa.

Sejarah Perayaan Grebeg Sudiro 2023 berawal dari peringatan ulang tahun Pasar Gede Hardjonagoro yang jatuh pada tanggal 12 Januari.

Dalam tradisi Jawa, arti grebeg merupakan acara rutin dan ucapan syukur dalam memperingati peristiwa penting. Nama Sudiro diambil dari kampung Sudiroprajan yang berada di Kawasan Pasar Gede.

Tradisi ini menjadi perpaduan dua budaya karena perayaannya digagas oleh etnis Tionghoa dan Jawa yang tinggal di Kawasan Kampung Sudiroprajan. Sebelumnya tradisi ini memang sudah hidup lama di Keraton Surakarta Hadiningrat.

Kelurahan Sudiroprajan sering disebut Kampung Pecinan karena wilayah ini banyak ditinggali oleh etnis Tionghoa.

Kampung ini dipercaya telah ada dari zaman Belanda dibuktikan dengan adanya klenteng Tien Kok Sie yang menjadi salah satu kelenteng tertua di Indonesia dan terdapat prasasti Bok Teko di kawasan tersebut.

BACA JUGA:  Jelang Perayaan Imlek di Jogja, Permintaan Kue Keranjang Naik 50 Persen
Perayaan Grebeg Sudiro 2023
Perayaan Grebeg Sudiro 2023 menjadi acara rutin saat Lunar New Year. (Ilustrasi: Pixabay/ Lancier)

Ciri khas dari acara ini terdapat tumpeng atau gunungan yang berisi hasil bumi dan jajanan lokal. Ada dua kegiatan pokok yaitu sedekah bumi dan kirab budaya.

Sedekah bumi dimaksudkan sebagai bentuk rasa syukur para pedagang di Pasar Gede dan masyarakat sekitar. Kirab budaya dimaknai sebagai kerukunan dua etnis yaitu Tionghoa dan Jawa sehingga dalam kegiatan ini terdapat tarian khas Jawa serta perform liong dan barongsai.

Menurut Pemerintah Kota Solo, Perayaan Grebeg Sudiro 2023 bisa mengusung semangat kebhinekaan dan keberagaman yang harus dilestarikan secara terus menerus. **** (Kontributor: Arina Asyifa)