10 Alasan Orang Enggan Konsultasi Masalah Psikologi: Mulai dari Biaya hingga Stigma

HARIANE JOGJA – Bagi sebagian orang, mendatangi Psikolog atau psikiater untuk konsultasi masalah psikologi masih dianggap tabu dan memalukan. Sementara sebagian lain, merasa ragu dan khawatir dengan besarnya biaya yang harus dikeluarkan.

Masalah kesehatan mental memang menjadi masalah yang pelik untuk diselesaikan.

Adanya stigma “buruk” yang tumbuh di masyarakat hingga kurangnya informasi dan kesadaran tentang pentingnya kesehatan mental menjadi alasan utamanya.

Akibatnya, banyak yang terlambat mendapat bantuan. Mereka akhirnya larut dalam lautan depresi yang menggangu kehidupan pribadi, berkeluarga dan sosialnya.

Tidak jarang, penderita gangguan kesehatan mental akhirnya harus dirawat di rumah sakit jiwa. Bahkan, karena merasa tak menemukan jalan keluar atas permasalahan yang dihadapai, sebagian memilih aksi nekat melakukan bunuh diri.

BACA JUGA:  Alasan Mengapa Banyak Orang Percaya Takhayul, Dapat Dijelaskan Secara Psikologis

Beberapa Alasan Umum Mengapa Orang Enggan Konsultasi Masalah Psikologi:

1. Kekhawatiran tentang Biaya

masalah kesehatan mental
Seorang pengangguran memiliki peluang mengalami depresi lebih tinggi dibanding mereka yang bekerja dan memiliki penghasilan tetap. (Ilustrasi: Nipan Chawcharernpon)

Terapi atau konseling dengan seorang psikolog atau Psikiater sering kali memerlukan biaya.

Beberapa individu, terutama yang berasal dari keluarga menengah ke bawah, merasa khawatir tentang biaya yang terkait dengan konsultasi ke psikolog atau psikiater.

Terutama jika mereka tidak memiliki asuransi kesehatan yang mencakup layanan kesehatan mental.

Terlebih, berdasar hasil penelitian mahasiswa Universitas Indonesia (UI) dalam jurnal berjudul “Analisis Faktor Socioeconomic Status (SES) Terhadap Kesehatan Mental: Gejala Depresi di Indonesia”, disebut jika orang yang tidak bekerja memiliki probabilitas mengalami depresi lebih tinggi dari yang bekerja.

Dengan demikian, faktor status sosial ekonomi berkorelasi negatif dan memiliki pengaruh secara signifikan terhadap gangguan mental gejala di Indonesia.

Artinya status sosial ekonomi yang dimiliki dalam hal ini mencangkup pendidikan, kekayaan, dan status pekerjaan, memiliki pengaruh terhadap seseorang tersebut mengalami gejala mental illness.

2. Kurangnya Pemahaman

Beberapa orang mungkin tidak sepenuhnya memahami apa yang dilakukan seorang psikolog dan psikiater serta bantuan apa yang bisa didapat dari mereka.

Kurangnya pemahaman ini dapat mengakibatkan ketidakpercayaan terhadap proses konseling.

3. Ketidakamanan Berbicara tentang Masalah Pribadi

Membicarakan masalah pribadi dengan seseorang yang tidak dikenal bisa menjadi pengalaman yang tidak nyaman bagi banyak orang.

Terbuka tentang masalah pribadi bisa menimbulkan rasa vulnerabilitas yang membuat orang merasa enggan.

BACA JUGA:  Ciri-ciri Toxic Relationship yang Harus Diketahui, Dapat Membahayakan Kesehatan Mental

4. Kecurigaan terhadap Terapi

Beberapa orang mungkin skeptis terhadap efektivitas terapi atau konseling.

Mereka mungkin merasa bahwa itu tidak akan memberikan manfaat yang signifikan atau bahwa masalah kesehatan mental mereka tidak serius.

5. Penolakan dan Ketidakpedulian

Ada kemungkinan bahwa orang dengan masalah kesehatan mental menghadapi penolakan atau kurangnya dukungan dari orang-orang di sekitar.

Hal ini sering kali membuat mereka menjadi pribadi yang lebih tertutup dan enggan menceritakan masalah mereka.

6. Kurangnya Informasi

Beberapa orang mungkin tidak tahu bahwa bantuan psikolog dan psikiater bisa didapat dengan mudah. Bahkan bisa didapat secara gratis dan dengan metode layanan Call Center dari Dinas Kesehatan di wilayahnya tinggal.

Karena itu, penting untuk berbagi informasi mengenai layanan konsultasi kesehatan mental pada orang-orang terdekat.

7. Perasaan Memadai

Sebagian orang merasa bahwa mereka memiliki mental yang cukup kuat dan dapat mengatasi masalahnya sendiri tanpa bantuan profesional.

Padahal, bisa jadi hal ini hanya denial (penolakan) di alam bawah sadar bahwa mereka memiliki masalah dalam kesehatan mental.

Di sinilah pentingnya peran seorang ahli untuk menyadarkan dan memberi pemahaman serta dukungan tambahan.

8. Kekhawatiran tentang Stigmatisme di Tempat Kerja

Beberapa individu mungkin khawatir bahwa mencari bantuan psikolog akan mempengaruhi karier mereka atau menyebabkan ketidakpercayaan dari atasan atau rekan kerja.

9. Mitos dan Tidak Paham

Ada banyak mitos dan kesalahpahaman tentang terapi dan konseling.

Orang sering kali mendengar cerita-cerita mengerikan tentang pengalaman konseling yang buruk atau mendapatkan saran yang tidak berguna.

10. Stigma

Stigma sosial yang melekat pada orang yang sedang memiliki masalah dengan kesehatan mental masih merupakan masalah besar.

Beberapa orang merasa malu atau takut dijauhi jika diketahui bahwa mereka mengalami masalah kesehatan mental.

Hal ini dapat menyebabkan banyak individu merasa enggan untuk mencari bantuan.****