HARIANE JOGJA – Peristiwa sapi berkepala dua lahir di Gunungkidul sukses membuat warga heboh. Sapi tersebut diketahui milik warga Jurangjero, Ngawen, Wonosari, Gunungkidul.
Gambar sapi berkepala dua tersebut diabadikan oleh salah satu akun Instagram @updatedisini. Lewat akun tersebut, tampak anak sapi yang baru saja lahir tersebut memiliki dua kepala.
Sapi berkepala dua di Gunungkidul tersebut juga memiliki dua pasang mata, dua mulut, dan dua hidung yang berfungsi baik.

Sempat membuat heboh, bagaimana sebenarnya penjelasan ilmiah fenomena unik tersebut?
Penjelasan Ilmiah Tentang Fenomena Sapi Berkepala Dua Lahir di Gunungkidul
Dirilis laman Bionity.com, fenomena hewan berkepala dua sebenarnya sudah ada dari zaman dahulu. Kasus ini sering disebut Polycephaly.
Hewan berkepala dua yang paling sering ditemukan adalah kura-kura dan ular. Spesies lain yang juga diketahui memiliki kepala dua adalah sapi, domba, babi, kucing, anjing, dan ikan.
Setiap kepala hewan polycephalic, termasuk sapi kepala dua di atas, memiliki otaknya sendiri. Sedemikian rupa mereka berbagi kendali atas organ dan anggota tubuh, meskipun struktur spesifik dari koneksi bervariasi.
Sapi kepala dua dan hewan polycephalic sering bergerak dengan cara yang membingungkan dan pusing, dengan otak yang ‘berdebat’ satu sama lain. Bahkan beberapa hewan hanya bergerak zig-zag tanpa bisa ke mana-mana.
Contoh lain adalah kepala ular dapat menyerang dan bahkan mencoba menelan satu sama lain.
Oleh karena itu, hewan polycephalic tidak dapat bertahan hidup dengan baik di alam liar dibandingkan dengan hewan normocephalic yang normal.
Kebanyakan ular berkepala dua hanya hidup selama beberapa bulan, meskipun beberapa telah dilaporkan hidup seumur hidup dan bahkan bereproduksi dengan keturunan yang lahir normal.
Fenomena sapi kepala dua sebenarnya masuk akal karena ada berbagai macam kembar siam.
Bahkan kembar siam non-dicephalic mungkin hampir tidak dapat disatukan dan dapat dipisahkan melalui operasi.
Bagaimana Fenomena Tersebut Dapat Terjadi?
Seperti yang diwartakan oleh laman Huron County Museum, beberapa literatur menunjukkan bahwa fenomena di atas disebabkan oleh gangguan pada garis primitif.
Garis primitif sendiri merupakan struktur embrio yang terorganisir dari sel-sel yang muncul pada minggu kedua masa kehamilan.
Apakah faktor lingkungan berpengaruh terhadap fenomena sapi kepala dua?
Tidak ada yang tahu persis mekanisme lingkungan dibalik pembelahan embrio yang tidak normal tersebut.
Kekurangan mineral dan faktor lingkungan seperti peningkatan suhu air dan paparan bahan beracun telah terlibat dalam beberapa spesies, tetapi kemungkinan besar ada banyak penyebabnya.
Kelainan gen yang sifatnya acak juga dapat mempengaruhi kesalahan perkembangan embrio yang memungkinkan terjadinya fenomena ini, seperti sapi berkepala dua lahir di Gunungkidul. **** (Kontributor: Meilisa Jibrani)
Baca artikel menarik lainnya di hariane.com


Penulis dan Editor
-
Admin
-
Tri Lestari
Masa Depan DIY di Tangan Pelajar: Sekda Ingatkan Bahaya Kenakalan Remaja yang Mengintai
Saemen Fest 2026: Lineup, Venue Baru, Harga Tiket, dan Cara Beli
Pantai Watu Kodok Gunungkidul: Harga Tiket, Camping, Rute, Fasilitas, dan Sunset Memukau
Kemnaker Siapkan Lulusan Hadapi Era AI dan Green Jobs, Polteknaker Didorong Adaptif dan Multiskill
Motif Pengeroyokan Pelajar di Bantul Terungkap, Dipicu Balas Dendam Antargeng
Kasus Pengeroyokan Pelajar di Bantul: Dari Penculikan hingga Tewas, 7 Pelaku Terancam Hukuman Mati
Sultan Hamengku Buwono X Dorong Sinergi Daerah Wujudkan PSEL: Dari Tumpukan Sampah Menuju Sumber Energi Baru
Sumino, Nafas Tradisi dari Suara Kendang Gunungkidul
Sri Sultan HB X Dorong Keadilan Fiskal DIY di Tengah Pemangkasan Dana Transfer 2026
Mahasiswa di Banguntapan Bantul Ditangkap Polisi karena Pencurian Sepatu dan Tabung Gas Elpiji
BUDAYA
Sumino, Nafas Tradisi dari Suara Kendang Gunungkidul
Malam ini, Wayang Jogja Night Carnival 2024 Siap Memukau di HUT ke-268 Kota Yogyakarta
GAYA HIDUP
Pantai Watu Kodok Gunungkidul: Harga Tiket, Camping, Rute, Fasilitas, dan Sunset Memukau
Konser HUT ke-194 Bantul: Ndarboy Genk hingga NDX AKA Siap Guncang Panggung Malam Puncak
HARIANESIA
OLAHRAGA
PSS Sleman Siap Hadapi Liga 1 2024/2025 dengan Skuad Baru dan Ambisi Besar
GKR Hemas Ikut Nobar Indonesia Vs Iraq bersama Karang Taruna Kemantren Pakualaman di Alun-alun Sewandana
PENDIDIKAN
ZODIAK
Sifat Weton Jumat Wage yang Dinaungi Lintang Magelut dan Laku Pandita
Informasi Lengkap Weton Kelahiran 8 Februari 2023: Mulai dari Karakter, Pekerjaan, dan Jodoh
VIDEO
Masa Depan DIY di Tangan Pelajar: Sekda Ingatkan Bahaya Kenakalan Remaja yang Mengintai
Saemen Fest 2026: Lineup, Venue Baru, Harga Tiket, dan Cara Beli
Pantai Watu Kodok Gunungkidul: Harga Tiket, Camping, Rute, Fasilitas, dan Sunset Memukau
Kemnaker Siapkan Lulusan Hadapi Era AI dan Green Jobs, Polteknaker Didorong Adaptif dan Multiskill
Motif Pengeroyokan Pelajar di Bantul Terungkap, Dipicu Balas Dendam Antargeng
Kasus Pengeroyokan Pelajar di Bantul: Dari Penculikan hingga Tewas, 7 Pelaku Terancam Hukuman Mati
Sultan Hamengku Buwono X Dorong Sinergi Daerah Wujudkan PSEL: Dari Tumpukan Sampah Menuju Sumber Energi Baru
Sumino, Nafas Tradisi dari Suara Kendang Gunungkidul
Sri Sultan HB X Dorong Keadilan Fiskal DIY di Tengah Pemangkasan Dana Transfer 2026
Mahasiswa di Banguntapan Bantul Ditangkap Polisi karena Pencurian Sepatu dan Tabung Gas Elpiji