Harapkan Bus Sekolah di Bantul, 93 Persen Pelajar Setujui Penyediannya

HARIANE BANTUL – Survey terkait bus sekolah di Bantul belum lama diadakan oleh Dinas Perhubungan (Dishub) setempat.

Dari survey tersebut setidaknya 93 persen pelajar kabupaten ini setuju dengan penyediaan bus sekolah di Bantul.

Atas dasar itulah kemudian Dishub Kabupaten Bantul tengah menggodok rencana pengadaan moda transportasi massal khusus pelajar tersebut.

Survey Bus Sekolah di Bantul

Kepala Bidang Angkutan Jalan dan Prasarana Transportasi Dishub Bantul, Suyamto tidak menampik jika saat ini pihaknya tengah merencanakan pengadaan bus sekolah di Bantul.

Disebutnya, Dishub Bantul telah melakukan survey terhadap 400 respondesn yang terdiri dari pelajar jenjang SD hingga perguruan tinggi.

Tujuannya untuk menganalisa lebih lanjut terkait pengadaan bus sekolah. Selain itu dilaksanakannya survey ini juga untuk mengetahui permintaan pelajar terhadap angkutan bus sekolah.

 

Bus sekolah di Bantul
Kepala Bidang Angkutan Jalan dan Prasarana Transportasi Dishub Bantul, Suyamto. (Foto: Wahyu Turi K)

“Sebanyak 40 persen responden berusia diatas 18 tahun, 21 persen berusia 15-18 tahun, da 39 persen berusia 10-15 tahun,” terangnya, Sabtu, 25 Februari 2023.

Berdasarkan survey, sebanyak 87 persen pelajar mengaku menggunakan moda transportasi sepeda motor untuk kepentingan bersekolah. Sedangkan sisanya, ada pelajar yang berjalan kaki, menggunakan sepeda kayuh, maupun transportasi umum.

Sementara hasil rekapitulasi survey terkait harapan adanya bus sekolah dari berbagai indikator, sebanyak 27 persen responden mengharapkan bus sekolah dapat membantu pelajar sebagai moda transportasi.

Kemudian 26 persen responden mengharapkan bus datang tepat waktu, 22 persen responden mengharapkan bus sekolah yang disediakan murah dan nyaman, dan 7 persen responden mengharapkan adanya bus sekolah dapat mengurangi kecelakaan lalu lintas.

Hasil lain yang diperoleh ialah sebanyak 93 persen responden setuju terhadap penyediaan bus sekolah.

Meski tak menyebutkan angka pastinya, namun pihaknya mencatat bahwa tingkat kecelakaan di Bantul yang melibatkan pelajar cukup tinggi.

“Banyak pelajar mengalami kecelakaan karena mengejar waktu dan banyak yang belum memiliki persyaratan (SIM) untuk berkendara,” sebutnya.

Suyamto mengatakan, dengan banyaknya responden yang menyetujui hal tersebut, diharapkan bus sekolah dapat membantu aktivitas pelajar untuk berangkat maupun pulang sekolah.

Selain itu diharapkan pengadaan bus sekolah dapat mengurangi jumlah penggunaan kendaraan di wilayah Bantul khususnya pada jam sibuk, baik itu pagi hari saat berangkat sekolah maupun siang atau sore hari saat pulang sekolah.

Ia menambahkan, meskipun belum diketahui secara pasti kapan pengadaan bus sekolah di Bantul terealisasi, saat ini Dishub Bantul terus mematangkan perencanaan tersebut.

“Belum tahun kapan pelaksaanaannya. Saat ini baru kita kaji, karena layak maka kita usulkan,” imbuhnya.

Bus sekolah di Bantul
(Ilustrasi: Pexels/Nothing Ahead)

Sementara itu, salah seorang warga Pleret, Samsul Arifin kepada Hariane mengharapkan keberadaan bus sekolah itu benar-benar bisa diandalkan.

Menurutnya, bus sekolah diperkotaan mungkin akan lebih mudah dikelola, namun untuk menjangkau pelajar yang sekolah di wilayah pedesaan mungkin akan cukup sulit.

Selain jarak jangkau dan medan yang harus ditempuh, kepadatan penduduk di pedesaan menurutnya juga akan berpengaruh pada waktu pelayanannya.

Seingat ayah dua anak ini, Bantul sebelumnya juga pernah memiliki program serupa namun entah apa alasannya bus sekolah di Bantul saat itu terhenti.

“Dulu ada bus warna putih itu, tapi sudah berhenti lama,” sebutnya. ****

(Kontributor: Wahyu Turi Krisanti)

Temukan artikel menarik lainnya di hariane.com