Filosofi Wu Wei China: Prinsip Hidup Santai Tanpa Memaksakan Diri

HARIANE JOGJA – Filosofi wu wei China menjadi salah satu aspek terpenting dalam kepercayaan Taoisme yang bisa diterapkan di kehidupan manusia pada umumnya.

Wu wei adalah sebuah konsep filsafati tentang penerimaan bahwa segala sesuatu yang tidak digariskan maka tak perlu dipaksakan. Sebab tidak semua hal bisa didapatkan meski telah berusaha keras sedemikian rupa.

Penerapan filosofi wu wei Taoisme dapat menjadi wujud sikap paling mulia dalam ajaran China ini.

Dalam Tao Te Ching, Lao Tzu juga menjelaskan bahwa filosofi ini senantiasa mengedepankan harmonisasi dari beragam fenomena alami.

Filosofi Wu Wei China

Dikutip dari penelitian berjudul ‘Dimensi Etis Taoisme dan Manfaatnya Bagi Pembangunan Berwawasan Lingkungan’ diunggah di portal perpustakaan Universitas Gadjah Mada, wu wei adalah sikap tidak berbuat sesuatu yang berlawanan dengan kodrat alam.

Inti ajaran Taoisme ini lebih menekankan pada kehidupan individu dibanding sosial.

Penerapan wu wei secara jangka panjang dapat membawa manusia kepada jalur peningkatan pembangunan berwawasan lingkungan yang berdaya.

BACA JUGA:  10 Ucapan Selamat Imlek 2023 Selain Gong Xi Fa Cai, Cocok Dibagikan pada Keluarga dan Teman
Filosofi Wu Wei China
Filosofi wu wei adalah salah satu ajaran utama pada Taoisme. (Ilustrasi: Pexels/Julia Avamotive)

Kemudian, dilansir dari kanal YouTube 1 Hari Sukses, istilah wu wei berarti tidak melakukan apa pun dalam bahasa China. Sejumlah orang lalu memaknainya sebagai tindakan tanpa usaha atau effortless action.

Wu wei sekilas tampak mengajarkan seseorang untuk menjadi apatis, santai, hingga bermalas-malasan. Namun sejatinya, filosofi ini merupakan suatu pertanda dari kedewasaan, kecerdasan, serta kebijaksanaan.

Filosofi yang menjadi salah satu inti dalam ajaran Taoisme ini meyakini kekuatan besar dari tidak melakukan tindakan. Taoisme sendiri disebarkan oleh Lao Tzu pada tahun 500 SM.

Wu wei di sisi lain juga menekankan bahwa tidak semua hal dapat diselesaikan oleh manusia sebab beberapa hal akan terselesaikan seiring berjalannya waktu maupun kehendak semesta.

Manusia mesti memahami batasan yang tepat sebelum memutuskan untuk bertindak, seperti diam dan tidak berbuat apa pun pada suatu saat atau melakukan sesuatu dengan sewajarnya.

Tidak Memaksa

Filosofi wu wei Taoisme memberi tahu manusia agar tidak memaksakan segalanya. Saat sesuatu terjadi tanpa bisa dikendalikan, maka biarlah itu terjadi, tak perlu dilawan atau pun diubah menjadi bentuk lain yang baru.

Semua yang telah ditakdirkan akan tetap terjadi, sedangkan yang bukan takdirnya, meski sekeras apa pun berusaha menggapai, hanya akan berlalu tanpa pernah menetap. Sia-sia saja jika mencoba untuk mengubahnya.

Untuk mencapai kesuksesan secara alami, manusia cukup berfokus pada hal-hal yang disukai, membutuhkan usaha secukupnya, serta tak pernah lelah melakukannya meski menguras banyak waktu.

Filosofi Wu Wei China
Wu wei mengajarkan manusia untuk tidak terlalu memaksa dalam menjalankan hidup. (Ilustrasi: Pexels/Andrea Piacquadio)

Namun sayang, manusia seringkali ingin meraih berbagai hal demi dipandang lebih unggul dari manusia lain.

Filosofi wu wei Taoisme mengingatkan manusia tentang pentingnya memahami batasan antara terus berusaha, mengambil jeda, atau berhenti di titik kecukupan. Setiap eksistensi di dunia memiliki perannya masing-masing, termasuk manusia.

Manusia dengan segenap perbedaan kemampuan, bakat, kekuatan, serta kekurangannya akan selalu melengkapi satu sama lain. Bila seluruh manusia menjalankan peran masing-masing secara konsisten, maka keharmonisan dapat tercapai.

BACA JUGA:  Mengenal Prinsip Pareto Rule, Gunakan 4 Aturan Ini untuk Hidup Lebih Efektif

Tidak Melawan Arus

Wu wei adalah memandang hidup laksana air di mana manusia cukup berenang dalam arusnya tanpa sebuah perlawanan, sebab hal itu hanya akan menguras waktu, energi, hingga emosi manusia yang terbatas.

Antusiasme untuk memperbaiki atau mengubah tak jarang terlihat seperti suatu upaya positif yang tepat, namun jalan terbaik menurut wu wei sejatinya adalah melakukan penyelarasan diri dengan alam.

Dalam berbagai kesempatan, manusia tak hanya perlu bekerja keras mencapai sesuatu, namun juga penting untuk bersikap bijaksana, mengikhlaskan setiap ekspektasi, serta bersikap ikhlas dengan segala takdir yang ada.

Sebagaimana air yang mengalir ke atas tentu mendapat tekanan kuat dari energi lain untuk bisa mendorongnya, namun lambat laun energi tersebut akan melemah kemudian habis tak bersisa dan air akan kembali pada arus alaminya.

Kelembutan Mengalahkan Kekerasan

Filosofi Wu Wei China
Berserah pada kehendak situasi dan merelakan segala hal yang tidak penting. (Ilustrasi: Pexels/Kelvin Alverio)

Filosofi wu wei menuntun manusia untuk berserah pada kehendak situasi dan merelakan segala hal yang tidak penting. Alih-alih bersikap egois, manusia sebaiknya bersikap terbuka dan lepas dari kesombongan.

Setiap ide dan cara hidup baru hendaknya menjadi pedoman utama bagi manusia dibanding terikat dengan masa lalu maupun keyakinan lama.

Seseorang yang bersikap dan berlaku adaptif terhadap segala bentuk perubahan akan mudah merasa bahagia. Sebaliknya, seseorang yang melawan perubahan hanya membuat diri mereka dipenuhi oleh amarah berkepanjangan.

Secara sederhana, memilih hidup fleksibel dengan melembutkan hati akan membuat segalanya menjadi lebih mudah untuk dijalani.

Seperti air yang bersifat lembut tapi tak ada yang bisa mengalahkan kekuatannya. Hal ini karena kelembutan air justru sanggup mengalahkan batu maupun logam yang kerap dinilai keras dan kaku.

Menjalani filosofi wu wei berarti memilih untuk berserah dan menghapuskan prasangka terhadap segala pemberian hidup dengan tetap percaya akan hal-hal baik di baliknya, meski tidak menyenangkan sekalipun.

Filosofi wu wei China berkeyakinan alam telah menuntun manusia pada inti dari kesejatian hidup. Sehingga apabila satu jalur tertutup, maka jalur lain akan terbuka bagi siapa pun yang mempercayainya. **** (Kontributor: Irena Dyah Kristina)

Baca artikel menarik lainnya di Hariane.com